Putri Candrawathi Tidak Ditahan, Perekat Nusantara: Bukti Polri Memasuki Paradigma Baru
search

Putri Candrawathi Tidak Ditahan, Perekat Nusantara: Bukti Polri Memasuki Paradigma Baru

Zona Barat
Perekat Nusantara menggelar konferensi pers terkait kasus penembakan polisi Brigadir J alias Brigadir Joshua Hutabarat di kawasan SCBD, Jakarta, Jumat (22/7/2022). Foto: Politeia.id.

Politeia.id-Pergerakan Advokat Nusantara (Perekat Nusantara) menilai tidak ditahannya Putri Candrawathi tersangka kasus pembunuhan Brigadir Yosua Hutabarat alias Brigadir J membuktikan Polri memasuki paradigma baru menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM) dari seorang tersangka.

Koordinator Perekat Nusantara, Petrus Selestinus mengatakan, harus diakui bahwa selama ini aspek pelayanan keadilan oleh Polri kepada masyarakat masih buruk. Itu tak lepas dari seringnya terjadi penyimpangan dalam penggunaan wewenang diskresi dalam hal menahan seseorang.

"Sehingga dalam sejumlah kebijakan penyidikan, Polri dinilai bertindak jauh dari rasa keadilan publik, termasuk menahan seorang Ibu dengan bayinya," kata Petrus dalam konferensi pers di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Senin (5/9).

Kendati demikian, menurut Petrus publik belum merasa puas kalau penyidik hanya menetapkan tersangka dan menahan Ferdy Sambo cs tanpa menahan Putri Candrawathi.

"Sebagian pihak menganggap tidak ditahannya Ibu PC (Putri Candrawathi), sebagai kebijakan yang diskriminatif dengan membandingkan perlakuan penyidik yang menahan sejumlah ibu dalam kasus berbeda ketika sedang menghadapi proses pidana," ujarnya.

Petrus menegaskan, tindakan Polri menahan sejumlah ibu dalam kasus berbeda dan berdiri sendiri, meskipun dalam keadaan tidak layak dan tidak manusiawi untuk ditahan, dinilai sebagai tindakan yang sewenang-wenang dan tidak berperikemanusiaan.

Alasannya, kata dia, KUHAP menyerahkan kewenangan untuk menahan seseorang tersangka pada pertimbangan dan alasan obyektif dan subyektif penyidik.

"Artinya tidak ada keharusan bagi penyidik untuk menahan setiap orang yang tersangkut perkara pidana," tegas Petrus.

Menurut Petrus, tidak ditahannya Putri yang nota bene merupakan istri seorang jenderal bukan semata adanya diskriminasi polisi. Bagi Perekat Nusantara, kata Petrus, hal tersebut semata-mata sebagai momentum Polri ingin berbenah.

"Ini paradigma baru Polri dalam pelayanan keadilan kepada masyarakat yang lebih baik secara bertahap, dimulai dari Ibu PC," katanya.

Di sisi lain, munculnya kritik publik soal penahanan penyidik atas sejumlah kasus yang tersangkanya adalah ibu-ibu yang sedang hamil tua atau sedang memiliki bayi dan punya tanggungan anak yang masih kecil, tidak digubris polisi selama ini. Padahal, dalam pandangan publik, keadaan seorang ibu yang memiliki bayi seharusnya tidak perlu ditahan dan itu sah-sah saja.

Kendati demikian, lanjut Petrus, tuntutan publik agar Polri mengusut tuntas dan transparan kasus Ferdy Sambo cs disertai dengan permintaan agar manajen penyelidikan dan penyidikan dibenahi dengan menekankan kepada aspek ketaatan dan kepatuhan terhadap KUHAP dan kode etik, telah direspons secara terbuka oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

"Bareskrim Polri telah memulai dengan beberapa paradigma baru dalam tugas penyelidikan dan penyidikan pasca Ferdy Sambo dkk, ditetapkan sebagai tetsangka dan ditahan, serta puluhan anggota lainnya diproses hukum dan etik karena obstruction of justice dan pelanggaran etik. Ini artinya ada paradigma baru dalam kebijakan manajemen penyidikan, yang patut kita apresiasi dan kita kawal terus," ungkap dia.

Dengan demikian, tambah Petrus, kebijakan penyidik dengan tidak menahan Putri Candrawathi atas alasan kemanusian dan psikologi anak dan lain-lain, hal ini adalah bagian dari paradigma baru pimpinan Polri yang harus didukung, dikawal dan dibudayakan dalam manajemen penyelidikan dan penyidikan ke depan. 

Tag:

comments