Perekat Nusantara: IDI Kehilangan Akal Sehat Pecat Terawan, Diduga Terpapar Radikalisme
search

Perekat Nusantara: IDI Kehilangan Akal Sehat Pecat Terawan, Diduga Terpapar Radikalisme

Zona Barat
Koordinator Perekat Nusantara Petrus Selestinus. Foto: Politeia.id/Ist

Pergerakan Advokat Nusantara (Perekat Nusangtara) menyatakan sangat menyesalkan keputusan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memecat secara permanen dokter Terawan Agus Putranto. Menurut Koordinator Perekat Nusantara, Petrus Selestinus, pemecatan didasarkan pada pertimbangan subyektif semata.

Dia mengatakan, dalam rekomendasi Muktamar IDI dikemukakan sejumlah alasan pemecatan dokter Terawan. Akan tetapi. jika dilihat dari rekam jejak dan prestasi dokter Terawan dan ketentuan kode etik kedokteran Indonesia dan pedoman pelaksanaan kode etik kedokteran Indonesia, maka seharusnya diberikan penghargaan dalam forum Muktamar IDI di Aceh, bukan pemecatan.

"Artinya alasan-alasan yang dijadikan landasan pemecatan terhadap keanggotaan dokter Terawan oleh Majelis Kode Etik IDI sangat tidak berdasar. Karenanya, tidak kompatible dengan sejumlah prestasi cemerlang yang digapai dr. Terawan sebagai testimoni dan apresiasi publik sebagai ungkapan kepuasan terhadap pelayanan kesehatan oleh dr. Terawan selama ini," ujar Petrus dalam keterangannya, Senin (28/3)..

Menurut Petrus, pemecatan dr. Terawan dari keanggotaan IDI yang diumumkan dalam sebuah forum Muktamar IDI di Aceh, diduga sudah didesain secara matang untuk aksi publisitas. Tujuannya, untuk mendapatkan legitimasi. Namun, yang terjadi justru sebaliknya dr. Terawan malah mendapat dukungan publik yang semakin luas dan IDI diprotes banyak pihak.

Petrus menilai, IDI seakan-akan kehilangan akal sehat dan nalar bahkan emosional ketika mengeluarkan rekomemdasi pemecatan dr. Terawan dari keanggotaan IDI. Padahal forum Muktamar IDI seharusnya berbicara tentang kemajuan kedokteran Indonesia pasca Covid-19, bukan sebaliknya membunuh kreatifitas dan inovasi Terawan dalam melahirkan metode penyembuhan pasien dengan sistim DSA hingga Vaksin Nusantara.

"Sikap IDI jelas memperlihatkan ada anasir-anasir intoleran dan radikal dalam pemecatan atas diri dr. Terawan. Para Nitizen menduga jangan-jangan sebagian elit IDI sudah terpapar radikalisme dan intoleran sebagaimana IDI Jawa Tengah mencoba membalikan fakta tentang dr. Sunardi, terduga teroris yang ditembak Densus 88 sebagai dokter yang berjiwa sosial kemanusian dan bukan terduga teroris," jelasnya.

Dia mengatakan, dari netizen yang mendukung dr. Terawan dan memprotes pemecatan dari keanggotaan IDI, banyak pihak mengkonstatir bahwa sebagian elit IDI diduga sudah terpapar radikalisme dan intoleransi. Salah satu indikatornya adalah dr. Sunardi, anggota IDI, terduga teroris yang ditembak mati beberapa waktu lalu dibela habis-habisan oleh IDI dan menyalahkan Densus 88.

"Karena itu untuk memfilter dan menyelamatkan profesi dokter dari kemungkinan terpapar radikalisme dan intoleransi yang semakin luas, maka dr. Terawan sebaiknya difasilitasi untuk membentuk IDI baru yang berwawasan nusantara, dimana hanya dokter-dokter yang berwawasan nusantaralah yang dapat menjadi anggota IDI baru atau IDI Nusantara," kata Petrus.

Petrus menegaskan, pembentukan IDI baru, bukan tandingan melainkan sebagai upaya secara progresif membenahi kedokteran Indonesia dari praktek-praktek tidak terpuji yang selama ini disorot publik dan gagal dilakukan pembenahan oleh IDI sendiri.

"Di samping itu IDI baru nanti sebagai wadah untuk melahirkan dokter-dokter Indonesia yang berwawasan nusantara demi menjaga NKRI dan kemurnian serta kemuliaan profesi dokter sesuai dengan visi dan misi IDI yang akhir-akhir sering disalahgunakan oleh elite IDI untuk tujuan lain di luar tujuan dan sumpah jabatan dokter," pungkasnya.

 

Tag:

comments