4 Alasan Komnas HAM Gugurkan Pengaduan 75 Pegawai KPK
search

4 Alasan Komnas HAM Gugurkan Pengaduan 75 Pegawai KPK

Zona Barat
Ketua Tim Task Force Forum Advokat Pengawal Pancasila (FAPP), Petrus Selestinus. (Foto: Ist)

Politeia.id -- Koordiantor TPDI Petrus Selestinus, mengatakan, terdapat empat alasan yang berpotensi dapat menggugurkan pengaduan 75 pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Komnas HAM terkait polemik tes wawasan kebangsaan (TWK).

Menurut Petrus, sesuai ketentuan pasal 91 UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM, dikatakan bahwa pemeriksaan atas pengaduan kepada Komnas HAM tidak dilanjutkan atau dihentikan. Antara lain materi pengaduan bukan pelanggaran HAM; pengaduan diajukan dengan itikad buruk; terdapat upaya hukum yang lebih efektif; dan sedang terjadi penyelesaian melalui upaya hukum yang tersedia sesuai UU.

Pertama, materi pengaduan bukan pelanggaran HAM. Alasannya,1.357 Pegawai KPK yang belum menjadi ASN diberi kesempatan yang sama, ikut TWK.

"Dan hasilnya 75 pegawai KPK lainnya dinyatakan tidak lolos TWK oleh BKN, sedangkan 1.274 Pegawai KPK lainnya yang lolos TWK telah dilantik menjadi ASN Pada KPK sesuai amanat UU," kata Petrus dalam keterangannya, Minggu (13/6).

Kedua, pengaduan 75 pegawai KPK dilandaskan pada itikad buruk. Dalihnya, mereka sesungguhnya tahu bahwa Komnas HAM tidak memiliki wewenang untuk membatalkan keputusan pimpinan KPK soal penonaktifan 75 Pegawai KPK dan keputusan BKN tentang 75 Pegawai KPK yang tidak lolos TWK.

Ketiga, terdapat upaya hukum yang efektif, dimana negara menyiapkan berbagai upaya hukum dan sarananya yaitu gugatan, banding, kasasi dan peninjauan kembali (PK) melalui Badan Peradilan Tata Usaha Negara, Badan Peradilan Umum, dan lain-lain yang berpuncak di Mahkamah Agung dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi sebagai organ pelaksana kekuasan Kehakiman.

Keempat, saat ini sedang terjadi penyelesaian melalui upaya hukum yang tersedia, sebagaiman terbukti saat ini 75 pegawai KPK nonaktif tengah mengajukan upaya hukum berupa permohonan uji materiil ke MK guna membatalkan pasal 24 dan pasal 69C UU No. 19 tahun 2019 tentang KPK terhadap UUD 1945.

"Atas dasar empat alasan itu, maka Komnas HAM seharusnya sejak awal menyatakan diri "tidak berwenang" memproses dan "menghentikan" seluruh tahapan/proses pemeriksaan yang sedang berjalan, dan "menggugurkan" Pengaduan 75 Pegawai KPK Nonaktif berdasarkan ketentuan pasal 91 UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM, karena peristiwa yang terjadi bukan merupakan pelanggaran HAM," jelas Petrus.

Fakta-fakta pendukung

Menurut Petrus, obyek pengaduan 75 ppegawai KPK adalah Surat Keputusan Tidak Lolos TWK dari BKN dan Surat Keputusan Penonaktifan 75 Pegawai KPK dari Ketua KPK.

Kualifikasinya sebagai "penetapan tertulis yang menimbulkan akibat hukum", yaitu 75 Pegawai KPK telah kehilangan kedudukan sebagai bagian dari Pegawai KPK dengan segala akibat hukumnya.

"Keputusan Pejabat TUN yang demikian hanya boleh dibatalkan oleh Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara atau Pengadilan Negeri melalui upaya hukum gugatan atau melalui pembatalan oleh pejabat yang mengeluarkan Keputusan (BKN atau Pimpinan KPK) berdasarkan asas contrarius actus," ungkap advokat Peradi ini.

Petrus menambahkan, harus diingat bahwa hak dan kebebasan yang diatur di dalam UU No. 39 Tah7n 1999 tentang HAM hanya dapat dibatasi oleh dan berdasarkan UU. Semata-mata untuk menjamin pengakuan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia serta kebebasan dasar orang lain, kesusilaan, ketertiban umum, dan kepentingan bangsa (pasal 73 UU HAM).

"Dengan demikian, membawa persoalan penonaktifan 75 pegawai KPK ke Komnas HAM, bukanlah upaya hukum yang efektif dan bukan upaya untuk mendapatkan keadilan dan kepastian hukum, melainkan upaya politik untuk menutup borok-borok lama di KPK. Karena Komnas HAM bukanlah badan peradilan, sehingga tidak memiliki kompetensi untuk memberikan keadilan dan kepastian hukum," pungkasnya.

Tag:

comments