PSI: Bangsa Indonesia tengah Hadapi Tantangan Transnasional Radikal
search

PSI: Bangsa Indonesia tengah Hadapi Tantangan Transnasional Radikal

Zona Barat
Polisiti Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Guntur Romli (Istimewa)

Politeia.id -- Polisiti Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Guntur Romli mengatakan bahwa Bangsa Indonesia tengah menghadapi tantangan transnasional radikal.

"Kita menghadapi tantangan ideologi transnasional radikal sangat gencar dan bahkan tidak bisa dihalangi karena adanya kemajuan teknologi," kata Guntur dalam diskusi Rumah Kebudayaan Nusantara (RKN) bertajuk "Tantangan Ideologi Pancasila", Sabtu (5/5).

Romli menjelaskan jika penyebaran paham radikal seperti ISIS sejak tahun 2011 sudah gencar menggunakan sosial media. Menurutnya, masyarakat belum sadar akan bahaya media sosial. Setelah sadar baru ada pembatasan di media sosial.

"Ada gerakan transnasional di Indonesia yang dibubarkan pada tahun 2017 yaitu Hisbut Tahrir Indonesia (HTI) yang juga melakukan propaganda melalui media sosial," tuturnya.

Lebih lanjut Romli mengatakan, ancaman transnasional radikal sudah terbukti baik dalam tindakan kekerasan seperti terorisme atau politik radikal yang ingin merubah Pancasila, UUD 1945.

"Mereka bergerak melalui media sosial karena kalau demo akan ada batasannya. Ponsel pintar juga sangat dekat dengan masyarakat,"tambah Romli.

Walaupun sudah dibasmi dan dibubarkan, kata dia, tetapi propaganda transnasional radikal ini sudah masuk ke dalam masyarakat.

Hal lain disampaikan Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo. Menurutnya kemajuan teknologi tanpa adanya pemantapan ideologi adalah sebuah ancaman.

"Teknologi tanpa memantapkan ideologi akan terancam dalan kehidupan sehari-hari. Pendidikan Pancasila juga sudah tidak ada, dan masuk transnasional radikal ini. Banyak yang memanipulasi nilai agama. Membenarkan kekerasan atas nama agama," tutur Benny dalam diskusi yang sama.

Benny menambahkan, generasi setelah 98 ini banyak yang tidak memahami Pancasila. Kondisi ini menurut Benny berbahaya dan harus segera dilakukan tindakan untuk mengatasinya.

"Generasi setelah 98 ini banyak yang tidak memahami Pancasila. Ini berbahaya dan harus segera dilakukan tindakan untuk mengatasinya," tegasnya.

Lebih lanjut Benny mengatakan, ini merupakan ancaman yang serius apalagi ketika media sosial sudah menjadi ancaman karena digunakan sebagai alat penyebaran dan propaganda.

Menurutnya, anak-anak bangsa mencintai bangsa dan negaranya. Mereka memerlukan role model dari para elit politik dan harus diberikan ketelandanan dari role model tersebut dan berikan kepercayaan.

"Anak muda memiliki caranya sendiri untuk mempersatukan bangsa dan Pancasila diaplikasi dalam kehidupan sehari-hari," tambahnya dan mengatakan Pancasila harus menjadi ideologi yang hidup dan praksis dengan kebijakan.

Tag:

comments