Pasca Bencana Siklon Seroja di NTT, BNPB Lakukan Evaluasi
search

Pasca Bencana Siklon Seroja di NTT, BNPB Lakukan Evaluasi

Zona Barat
Rapat Koordinasi Tim Intilejen Penanngulangan Bencana (TIPB) yang digelar BNPB, Kamis (29/4). Foto: Politeia/BNPB.

Politeia.id -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan evaluasi menyeluruh terhadap peristiwa bencana Siklon Tropis Seroja yang terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur, awal April.

Hadir dalam kegiatan evaluasi bertajuk Rapat Koordinasi Tim Intilejen Penanngulangan Bencana (TIPB) ini antara lain pejabat BNPB, BMKG, BPBD NTT, PVMBG, PUPR, dan akademisi.

Pusat Krisis Kesehatan menyebutkan ada 3 kabupaten yang memiliki dampak kesehatan yang besar, yaitu Flores Timur, Lembata, dan Alor.

Ketiga pulau ini terletak berjejeran di timur Pulau Flores ke arah Pulau Timor. Diapiti oleh Pulau Flores dan Timor, ketiga kabupaten ini menjadi sasaran bencana yang datang dari jalur selatan seperti Siklon Seroja.

Menurut Plt. Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB Abdul Muhari, dampak signifikan yang terjadi di 3 daerah tersebut diakibatkan oleh banjir bandang dan "debris flow" sebagai bencana turunan akibat Siklon Seroja.

"Dampak signifikan yang terjadi di Adonara, Lembata, dan Alor cukup luar biasa, namun bukan representasi dari dampak langsung siklon tropis. Semua daerah terdampak adalah daerah-daerah yang berada di kawasan alur air di muara," ungkap Abdul yang juga merupakan salah satu anggota Tim Survei BNPB.

Plt. Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Raditya Jati pertama-tama menegaskan bahwa adanya tantangan tersendiri dalam penanganan bencana di Indonesia yang merupakan negara kepulauan.

Dengan kondisi kepulauan seperti di NTT ini kita belajar dari dampak turunannya dan bagaimana upaya mitigasi kedepannya.

Terkait bencana NTT, Plh. Sekretaris BPBD NTT Sintus Carolus menjelaskan Pemprov NTT sudah melakukan tindak lanjut terkait informasi dini dari BMKG sejak bulan September 2020 mengenai adanya siklon tropis, dengan mengirimkan surat ke setiap Kabupaten/Kota, melaksanakan himbauan dan penegasan kepada masyarakat, serta sosialisasi.

Awal April, BMKG lagi-lagi merilis beberapa kali peringatan dini cuaca ekstrem dan adanya bibit siklon tropis di provinsi kepulauan itu.

Informasi tersebut telah diterima masyarakat, namun masyarakat tidak mengira bahwa bencana akan datang sebesar Siklon Seroja.

Seperti tampak dari informasi lapangan yang diperoleh tim survei dan pemetaan BNPB, masyarakat menerima informasi tersebut namun tidak mengira akan sebesar itu.

Ketika badai menerjang sejumlah wilayah pada 4 April, masyarakat yang sedang tidur tidak bisa melakukan upaya perlindungan.

Sebanyak 182 orang warga di sekitar 12 kabupaten/kota di NTT tewas dan puluhan lainnya hilang diterjang badai Siklon Seroja.

Menurut data Badan Informasi Geospasial (BIG), dampak yang ditimbulkan angin kencang di Kabupaten Malaka, misalnya, menyebabkan luapan sungai ke desa-desa yang berada di hilir sungai.

Kondisi terparah berada di Kecamatan Malaka Tengah, Malaka Barat, dan Weliman.

Sedangkan di Desa Oesena, tim BIG menemukan adanya retakan di badan jalan yang menyebabkan munculnya mata air hingga membuat aliran sungai baru.

Hal itu merujuk pula pada analisis penginderaan jauh yang dilakukan LAPAN, bahwa angin siklon tropis seroja banyak mengubah bentukan alam NTT, khususnya perubahan bentuk aliran sungai dan adanya danau baru yang terbentuk.

LAPAN juga mengemukakan bahwa Desa Lemedike yang berada di hilir sungai di kaki Gunung Aktif Ile Boleng masih terancam banjir lahar dingin.

Selain Gunung Ile Boleng, material lahar dari Gunung Ile Lewotolok juga mengancam desa-desa di sekitarnya.

Sebagai upaya pemulihan, PUPR mengatakan bahwa sejauh ini ada 2 peta usulan relokasi baru yaitu di Waisesa II sebanyak 546 unit rumah dan Waisesa I sebanyak 154 unit.

Sampai saat ini penanganan pasca bencana hidrometeorologi akibat siklon Seroja di NTT masih berlanjut.

PUPR mencanangkan penyelesaian rehabilitasi dan rekonstruksi rumah rusak dan sejumlah bangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, bendung, jaringan irigasi, dan bangunan sungai/pantai di tahun 2021 dan diteruskan di 2022.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan telah mengirimkan dokter spesialis bedah tulang, anestesi, dan perawat dari beberapa daerah di luar NTT untuk menangani korban.

Para tim kesehatan juga melakukan penyisiran korban luka di pengungsian dan rumah kerabat korban yang tidak terdampak.

Dalam penanganan Covid-19, petugas melakukan pemisahan pengungsian bagi masyarakat yang menjalani isolasi mandiri.

Sinergi Pemerintah dan Masyarakat

Dosen Institut Pertanian Bogor Dr. Perdinan mengatakan, BMKG sudah memiliki alat yang cukup baik untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat terkait potensi bencana.

Hanya saja, kata dia, langkah selanjutnya adalah bagaimana respon pemerintah, khususnya pemerintah daerah terkait laporan BMKG tersebut.

"Pertanyaannya adalah bagaimana respon pemerintah menanggapi peringatan dini tersebut? Kita harus menginformasikan semuanya dengan cepat dan tepat. Itu yang masih menjadi tantangan," katanya.

Menurut Perdinan, tidak hanya BNPB yang perlu merespon peringatan dini. Perlu dibangun kesiapsiagaan di tingkat Pemda bahkan masyarakat.

"Kolaborasi dari tingkat pusat, daerah, hingga masyarakat perlu dipertajam," tegas Perdinan.

Lebih lanjut, Perdinan menilai kepastian siklus tidak menjamin kepastian besaran bencana dan area terdampaknya.

"Seharusnya yang kita waspadai dalam fenomena ini adalah anginnya, bukan curah hujannya," mbuhnya.

Perdinan mengingatkan pentingnya "early action" setelah mendapat "early warning system" berupa kesiapsiagaan masyarakat dan lembaga, serta tidak melupakan "social engineering" dalam penanggulangan bencana.

Ditegaskan Profesor Faisal Fathani dari UGM bahwa dengan morfologi pulau di NTT yang cenderung hampir mirip satu sama lain, bentuk mitigasi yang sama dapat diterapkan di seluruh NTT yaitu dengan menerapkan sabo dam untuk mengurangi dampak banjir bandang.

Selain itu juga "early warning system" dapat diaplikasikan menggunakan pendulum dan ultrasonic sensor dengan partisipasi masyarakat.

Direktur Sistem Penanggulangan Bencana BNPB Udrech menegaskan kolaborasi unsur pentaheliks sangat penting dalam hal peringatan dini.

Kolaborasi dari instansi pemerintah termasuk juga akademisi, dunia usaha, dan masyarakat dapat menjadi kekuatan untuk mengurangi dampak dari sebuah bencana.

"Misalnya untuk siklon tropis Seroja ini, selain peringatan dini dari BMKG, penanganan bencana dapat didukung dengan data satelit dari LAPAN," ujar Udrekh.

Selanjutnya, Koordinator Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG Miming Saepudin mengatakan, siklon tropis sudah beberapa kali melintasi Indonesia.

Adapun potensi terbesar bencana Siklon Tropis terjadi di April-Mei.

"Dampak terbesar dirasakan pada 2008 lalu, baru yang kedua adalah di NTT pada awal April kemarin," katanya.

Miming menjelaskan dampak dari bencana turunan dari siklon tropis sangat perlu diwaspadai, di antaranya adalah gelombang tinggi, angin kencang, hujan lebat, banjir, longsor, dan banjir bandang.

Siklon tropis Seroja sendiri merupakan siklon terbesar kedua yang terjadi di Indonesia setelah siklon tropis Kenanga yang pernah terjadi di Selatan Jawa.

Pemerintah berharap pendataan penduduk dan sistem peringatan dini yang tepat penting dilakukan sebagai antisipasi untuk mengurangi kerugian yang mungkin timbul akibat bencana serupa di masa depan.

Para peserta rapat koordinasi berharap adanya satu data yang dapat dibangun secara kolaboratif dan diakses oleh siapapun.

Data tersebut dapat digunakan untuk observasi atau dalam penanganan tanggap darurat apabila terjadi bencana.

Edukasi kepada masyarakat dengan bahasa yang lebih awam juga diharapkan dapat dilakukan secara berkala dan terus menerus.

"Setelah peringatan dini tersedia dan terinformasikan, maka tantangan lain bagi pemerintah terkait pengurangan risiko dampak bencana adalah bagaimana peningkatan pemahaman dan respon stakeholder atau masyarakat. Peningkatan struktur lingkungan dalam menghadapi bencana juga perlu diperhatikan," ungkap Miming.*

Tag:

comments