Kemenkeu: Ekonomi 2021 Bisa Tumbuh Hingga 5,3 Persen
search

Kemenkeu: Ekonomi 2021 Bisa Tumbuh Hingga 5,3 Persen

Zona Barat
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memperkirakan pemulihan ekonomi nasional akan membaik di tahun ini dengan pertumbuhan di sekitar 4,5% hingga 5.3%. (Foto: Kementerian Keuangan)

Politeia.id -- Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memperkirakan pemulihan ekonomi nasional akan membaik di tahun ini dengan pertumbuhan di sekitar 4,5% hingga 5.3%. Melalui berbagai peran APBN, kebijakan ekonomi dalam negeri yang akomodatif serta perekonomian global yang membaik, diklaim meningkatkan confidence di dalam negeri.

Pada triwulan pertama tahun 2021, berbagai indikator menunjukkan sinyal positif pemulihan ekonomi yang harus dijaga kelangsungannya, seperti tingkat konsumsi masyarakat yang terus membaik, aktivitas ekonomi masyarakat dan dunia usaha yang terus meningkat, serta ekspor yang tumbuh semakin kuat.

APBN bergerak sangat dinamis di masa pandemi untuk merespon pandemi Covid0-19 dengan kunci utama yaitu mengedepankan keseimbangan antara penguatan countercyclical dengan pengendalian risiko. Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dalam APBN menjadi sangat krusial dalam menjaga konsumsi masyarakat dan keberlangsungan aktivitas usaha.

“Harapannya ke depan pengelolaan fiskal kita harus kita jaga agar lebih solid, risikonya terkendali dan lebih berdaya tahan untuk meredam uncertainty tadi. Tapi di sisi lain juga harus memberikan stimulus terhadap perekonomian,” kata Analis Kebijakan Madya Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Wahyu Utomo, dikutip dari web resmi Kemenkeu, Kamis (29/4).

Analis Ahli Muda BKF Anggi Novianti menambahkan, pemulihan ekonomi yang solid hanya akan tercapai jika pandeminya bisa terkendali dan Indonesia harus mampu menjaga momentum pemulihan ini.

“Penanganan pandemi itu seperti layer keju Swiss. Tidak bisa hanya satu tools, masih ada celahnya. Kalau vaksinasi bersama dengan 3T (testing, tracing, treatment) dan 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak) ini akan saling menutupi dan pandemi bisa terkendali,” kata Anggi dalam Talkshow Tinjauan Ekonomi, Keuangan dan Fiskal secara daring pada Rabu (28/4).

Lebih lanjut, Peneliti Muda BKF Bondi Arifin menyampaikan pemerintah akan terus berupaya untuk mewujudkan percepatan realisasi PEN di sektor kesehatan yang terdiri dari insentif tenaga kesehatan (Nakes) pusat dan daerah, belanja penanganan Covid 19, gugus tugas penanganan Covid 19, santunan kematian Nakes, bantuan iuran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan insentif perpajakan kesehatan.

Sebagai informasi, Tinjauan Ekonomi Keuangan dan Kebijakan Fiskal (TEKF) merupakan tinjauan triwulanan yang diterbitkan Badan Kebijakan Fiskal sebagai media informasi ke masyarakat terkait perkembangan ekonomi makro, sektor keuangan, dan kebijakan fiskal di Indonesia. TEKF edisi I Tahun 2021 ini mengambil tema “Menjaga Optimisme Pemulihan Ekonomi” dan menghadirkan ulasan khusus yaitu Evaluasi Program PEN Tahun 2020.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengemukakan ekonomi Indonesia akan membaik di 2021. Ia mengatakan program PEN akan memicu peningkatan konsumsi. Selain itu, reformasi struktural melalui UU Cipta Kerja akan mendorong Investasi untuk penciptaan lapangan kerja.

"Tren pemulihan ekonomi global dan peningkatan harga komoditas akan mendongkrak kinerja ekspor," ungkap Airlangga dalam keterangan tertulis, Jumat (23/4).

Airlangga mengulas Ekonomi Indonesia di Triwulan 1 2021 diperkirakan tumbuh dalam kisaran -0,5 sampai -0,34 secara YoY. Sementara itu, secara keseluruhan perekonomian nasional 2021 akan tumbuh dalam kisaran 4,5-5,3 (YoY). Hal itu, kata Airlangga, sejalan dengan berbagai leading indicator yang menunjukkan perbaikan.

Menurut mantan Menteri Perindustrian itu, program vaksinasi dan kebijakan PPKM mikro telah meningkatkan kepercayaan masyarakat. Stimulus otomotif, kata dia, telah meningkatkan penjualan ritel mobil sebesar 28,24% (YoY) di Maret 2021. Stimulus properti, pariwisata dan sektor yang lain, diharapkan dapat semakin meningkatkan konsumsi di sepanjang 2021.

Di sisi lain, penjualan ritel masih terkontraksi di level -17,14 (YoY) pada bulan Maret 2021, yang mengindikasikan konsumsi akan tumbuh secara terbatas.

Airlangga menambahkan peningkatan permintaan domestik mendorong peningkatan investasi sehingga meningkatkan aktivitas ekonomi dunia usaha, tercermin dari PMI (Purchasing Managers Index) Manufaktur yang semakin ekspansif ke level 53, 2 di Maret 2021 dan SBT (Saldo Bersih Tertimbang) Kegiatan Usaha yang membaik ke level 4,54 di triwulan I 2021.

Tag:

comments