Formappi: Pertemuan di Rumah Azis Syamsuddin Sebuah Persekongkolan Jahat
search

Formappi: Pertemuan di Rumah Azis Syamsuddin Sebuah Persekongkolan Jahat

Zona Barat
Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus. Foto: Politeia.id

Politeia.id -- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bakal mendalami pertemuan antara penyidik KPK Stepanus Robin Pattuju (SRP) dengan Wali Kota Tanjungbalai M Syahrial (MS) di rumah dinas Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin.

Robin merupakan penyidik KPK dari Polri yang terjerat kasus dugaan penerimaan hadiah atau janji terkait penanganan perkara Wali Kota Tanjungbalai, M Syahrial 2020-2021. Dia ditetapkan tersangka bersama Syahrial (MS) dan pengacara Maskur Husain (MH).

Dalam perkaranya, Robin diduga menerima Rp1,3 miliar agar tidak menaikkan status penyelidikan ke penyidikan dugaan korupsi di Pemerintah Kota Tanjungbalai. KPK menyebut, kasus bermula di rumah dinas Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin (AZ).

Peneliti senior Forum Masyarakat Peduli Parlemen (Formappi) Lucius Karus indikasi keterlibatan Azis Syamsuddin dalam kasus tersebut merupakan suatu hal yang memalukan. Kata dia, selaku pimpinan DPR, Azis merelakan dirinya menjalankan peran sebagai fasilitator atau makelar untuk mewujudkan misi M Syahrial agar kasusnya bisa dihentikan.

Azis yang tentu punya kapasitas untuk berkomunikasi dengan KPK berhasil mendatangkan penyidik KPK ke rumahnya untuk dipertemukan dengan tersangka M. Syahrial.

"Yang memalukan di sini tentu saja bagaimana jabatan berkelas setingkat Pimpinan DPR justru dilecehkan oleh Azis dengan memerankan fungsi sebagai makelar kasus." kata Lucius kepada Alinea.id, Jumat (23/4).

Lebih memalukan lagi, kata Lucius, rumah dinas pimpinan DPR yang disediakan negara sebagai fasilitas penunjang pimpinan DPR malah digunakan untuk membuat persekongkolan jahat untuk menghentikan kasus suap dengan bantuan berhadiah kepada penyidik.

Lucius berpendapat, pertemuan yang difasilitasi Azis yang mempertemukan tersangka suap M. Syahrial dengan Penyidik KPK Stefanus nampaknya paripurna untuk disebut sebagai persekongkolan jahat.

"Kehadiran wakil dari unsur penegak hukum ditambah lagi pelaku kejahatan, di hadapan seorang petinggi DPR benar-benar merupakan sebuah persekongkolan yang tak hanya mau membuktikan bahwa permainan kasus itu bisa dilakukan, tetapi juga membuktikan bahwa pemberantasan korupsi kita sudah berada di titik nadir," jelas dia.

Lucius menambahkan, pertemuan yang cenderung merupakan persekongkolan jahat itu pula menjadi bukti bahwa inisiatif DPR merevisi UU KPK yang dianggap melemahkan KPK bukan hanya pepesan kosong. Menurutnya, dugaan keterlibatan Azis seolah mengatakan bahwa DPR tak hanya sukses merubah regulasi tentang KPK tetapi juga menjadi kelompok pertama yang memanfaatkan regulasi yang melemahkan itu sekaligus mendapatkan keuntungan dari pelemahan KPK.

"Dengan demikian saya kira dugaan keterlibatan Azis dengan konstruksi pelibatan sebagai fasilitator atau makelar ini merupakan sesuatu yang krusial dan penting untuk ditangani cepat oleh KPK. Ini merupakan ujian terhadap KPK apakah betul lembaga itu lemah dan di bawah kendali lembaga tinggi seperti DPR? Proses yang terlalu lama terkait dugaan keterlibatan Azis hanya akan semakin menguatkan kecurigaan bahwa KPK memang lemah dan dikendalikan," pungkasnya.

Alinea.id coba menghubungi Azis Syamsuddin untuk mengkonfirmasi pertemuan di rumahnya. Kendati demikian, Azis belum menjawab pesan Alinea.id melalui pesan singkat.

 

Tag:

comments