Kepala BNPB Dorong Pemanfaatan Kearifan Lokal Tangkal Bencana
search

Kepala BNPB Dorong Pemanfaatan Kearifan Lokal Tangkal Bencana

Zona Barat
Kepala BNPB Doni Monardo ketika mengunjungi masyarakat Pulau Simeulue, Aceh, Rabu (21/4). Foto: Politeia/BNPB.

Politeia.id -- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mendorong pemanfaatan kearifan lokal dalam upaya memitigasi adanya bencana.

Hal itu disampaikan Doni usai menghadiri forum ramah tamah bersama masyarakat Pulau Simeulue, Aceh, Rabu (21/4), menyebut bahwa kearifan lokal masyarakat di pulau itu patut ditiru masyarakat daerah lain.

"Agar seluruh daerah itu harus menggali potensi kearifan lokalnya. Karena gempabumi dan tsunami adalah peristiwa yang berulang,” ujar Doni dalam keterangan tertulis yang diterima Politeia.id, Rabu.

Doni menjelaskan, masyarakat Pulau Simeulue memiliki kearifan lokal berupa penyebutan khusus terhadap bencana tsunami, yaitu "swong".

Menurut Doni, hal itu penting mengingat fenomena alam seperti gempabumi dan tsunami adalah peristiwa yang pasti berulang.

Dengan kearifan lokal maka informasi mengenai tanda-tanda alam yang dapat memicu bencana dapat diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat dan risiko sedapat mungkin diminimalisir.

Hal itu terbukti, ketika tsunami menerjang Aceh tahun 2004, masyarakat Simeulue sudah mengenali bencana itu karena mereka memiliki literasi kearifan lokal yang terus disampaikan melalui budaya tutur pada tiap generasi.

Marzuki (58) salah seorang warga Pulau Simeulue kepada Doni menuturkan bahwa ketika bencana tsunami menghantam Aceh, masyarakat Pulau Simeulue telah melakukan nasihat nenek moyang untuk melaksanakan evakuasi mandiri besar-besaran sesaat setelah tanda-tanda alam dirasakan dalam peristiwa Tsunami Aceh 2004.

"Saat gempa 2004, saya pun tak mampu berdiri. Besar sekali getarannya. Lalu kami melihat ke laut dan ada juga yang melihat sumur. Air kemudian surut. Nah, menurut nasihat nenek moyang itu tanda-tanda Smong akan datang. Kami segera lari menjauhi pantai dan cari tempat tinggi," kenang Marzuki.

Dari penuturan ini, maka dapat disimpulkan bahwa kearifan lokal dapat dijadikan sebagai peringatan awal terhadap tanda-tanda gejala alam yang kemudian dapat mendatangkan bencana.

Menurut catatan dari peristiwa Tsunami Aceh 2004, lebih dari 1.700 rumah di Pulau Simeulue hancur dihantam gelombang tsunami, akan tetapi korban jiwa yang meninggal dunia hanya ada sebanyak 6 jiwa.

Tak Hanya Tsunami

Doni mengatakan bahwa hakekat kearifan lokal dengan fungsi yang sama sebagai "early warning system" dapat dipakai untuk menghadapi berbagai jenis bencana lainnya.

Tidak hanya tsunami, tetapi bisa juga untuk gempabumi, banjir bandang, tanah longsor, angin puting beliung dan bencana alam sebagainya.

Menurut Doni, kearifan lokal dapat dijadikan sebagai ujung tombak dalam membangun kesiapsiagaan dan melakukan upaya mitigasi sebagai pencegahan.

"Sebagian besar wilayah nasional kita memiliki risiko yang tinggi dari ancaman bencana, sehingga kearifan lokal salah satu menjadi ujung tombak kita membangun kesiapsiagaan dan ketangguhan masyarakat," papar Doni.

Ia menandaskan bahwa kearifan lokal yang hidup di masyarakat merupakan bentuk partisipasi masyarakat dalam membantu pemerintah memitigasi bencana. Sebab, teknologi modern tidak selalu tepat memprediksi adanya potensi bencana.

"Tidak cukup Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, tetapi warga diminta untuk selalu menggali dan meningkatkan kemampuan kesiapsiagaan," tutupnya.*

Tag:

comments