Menko Airlangga: Indonesia Komit Kurangi Emisi Karbon hingga 41% di 2030
search

Menko Airlangga: Indonesia Komit Kurangi Emisi Karbon hingga 41% di 2030

Zona Barat
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Foto: Politeia/Net.

Politeia.id -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan komitmen Indonesia dalam mengurangi emisi karbon. Di tahun 2030, Indonesia diperkirakan bisa mengurangi emisi karbon hingga 41 persen.

Hal itu disampaikan Airlangga dalam forum dialog Forest, Agriculture and Commodity Trade (FACT) sebagai co-chair bersama dengan Inggris, selaku tuan rumah KTT Perubahan Iklim Conference to The Parties dari 26 negara (COP26) pada Kamis (15/4).

Forum ini merupakan salah satu side event yang diselenggarakan sepanjang tahun dalam rangkaian kegiatan menuju Sidang Perubahan Iklim yang puncaknya diadakan pada November di Glasgow, Inggris.

Forum ini bertujuan untuk menjadi wadah kolaborasi, baik bagi negara-negara produsen maupun konsumen dalam mempromosikan perdagangan komoditas dan pembangunan sembari menguatkan perlindungan terhadap lingkungan dan hutan.

Airlangga menjelaskan bahwa ada empat upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam mewujudkan produksi dan perdagangan berkelanjutan untuk menciptakan energi bersih tahun 2030.

Pertama, penerapan sistem jaminan legalitas kayu dan minyak sawit berkelanjutan (ISPO). Kedua, mengurangi kayu illegal dan deforestasi; ketiga, restorasi dan rehabilitasi lahan gambut; dan terakhir, penetapan lahan konservasi.

"Upaya dilakukan untuk mengurangi emisi sebesar 29% di 2030 dan bahkan bukan tak mungkin dengan dukungan kerjasama internasional diperkirakan dapat dikurangi hingga 41% emisi di 2030," ujar Airlangga.

Airlangga menyebut, pada 2020, Indonesia berhasil menurunkan 91,84 persen luas area kebakaran lahan dibandingkan tahun sebelumnya.

Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, kebakaran hutan di Indonesia pada tahun lalu adalah seluas 300.000 hektar, jauh lebih kecil dari negara-negara lain.

Di Amerika Serikat, misalnya, kebakaran lahan mencapai 3,5 juta hektare; di Uni Eropa seluas 400.000 hektare; hutan amazon seluas 2,2 juta; dan 18,6 juta hektare di Australia pada periode yang sama.

"Indonesia akan memimpin dengan memberikan contoh (leading by example)," kata Airlangga.

Ketua Umum Partai Golkar menambahkan bahwa Indonesia juga telah mengambil langkah-langkah konkret sebagai negara pertama yang mengimplementasikan Voluntary Partnership Agreement (VPA) on Forest Law Enforcement, Governance and Trade (FLEGT) bersama Uni Eropa dan Inggris. Indonesia juga telah melakukan penguatan sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO).

"Pertemuan perdana tingkat menteri ini memberi kita kesempatan untuk melakukan dialog terbuka antara negara-negara produsen dan konsumen dalam masalah keberlanjutan guna mempromosikan dan meningkatkan pembangunan ekonomi dan sosial serta perlindungan lingkungan," paparnya.

Buah dari pertemuan ini menyepakati Joint Statement on Principles for Collaboration under the Sustainable Forest Management, Agriculture and Commodity Trade (FACT) Dialogue.

Forum juga menyepakati pembentukan empat kelompok kerja, antara lain: 1) Trade and Market Development; 2) Smallholder Support; 3) Transparency and Tracebility; dan 4) Research, Development and Innovation yang akan segera menyusun Peta Jalan mengenai langkah konkret yang dapat diambil oleh Pemerintah.*

Tag:

comments