Kompiang: Cita Rasa Tionghoa di Tanah Manggarai
search

Kompiang: Cita Rasa Tionghoa di Tanah Manggarai

Zona Barat
Kompiang adalah salah satu makanan khas asal Manggarai. Foto: Labuanbajotour/Net.

Politeia.id -- Dalam pergaulan dengan teman-teman dari daerah Jawa, banyak dari mereka yang kadang bertanya: apa makanan khas Flores?

Flores adalah salah satu pulau kecil dari gugusan Kepulauan Nusa Tenggara, berada di selatan Indonesia. Pulau ini merupakan mayoritas penduduk untuk Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Nama Flores diberikan oleh orang-orang Portugis ketika pertama kali menginvasi Nusantara pada abad ke-15.

Dari namanya, flores berarti bunga. Maksud pemberian nama ini merujuk pada realitas alam Pulau Flores yang indah seperti bunga. Selain pariwisata, Flores memiliki kekayaan adat-istiadat dan bahasa yang luar biasa.

Berhadapan dengan pertanyaan mereka, saya lantas bingung hendak menjawab apa.

Di ibukota, saya mencicipi banyak makanan khas dari seluruh Indonesia, termask dari luar negeri seperti KFC, McDonald’s, Burger King, dll.

Sementara di tanah kelahiran saya, hampir tidak ada makanan yang benar-benar khas seperti daerah lain.

Kalaupun ada, itu merupakan makanan khusus atau makanan tradisional yang biasa disajikan tatkala acara adat atau hajatan tertentu, dan untuk sebuah wilayah kecil saja.

Sejauh amatan saya, di Flores pada umumnya semua makanan atau kuliner lokal diproduksi atau dibuat oleh perantauan Jawa atau orang-orang dari daerah lain di Indonesia.

Hampir tidak ada makanan khas Flores yang populer seperti Papeda dari Maluku dan Papua, Soto atau Bakso dari Jawa, atau Rendang dari Padang.

Makanan-makanan ini ada juga di Flores, tapi, lagi-lagi, bukan orang Flores yang membuatnya, melainkan orang-oang luar atau pendatang.

Di sepanjang kota, berjejer warung-warung makan, tapi semuanya bukan khas makanan Flores.

Namun saya kemudian teringat ada satu makanan khas di daerah Manggarai, salah satu wilayah paling barat Pulau Flores.

Di daerah ini, ada satu makanan khas yang sudah demikian populer di Indonesia, meski tak sepopuler Komodo. Namanya Kompiang.

Kompiang berbentuk oval seperti bentuk roti pada umumnya. Yang berbeda adalah di atas permukaan Kompiang ditaburi wijen lalu dibakar dalam oven.

Karena ditaburi wijen, makanan khas ini di Manggarai kerap disebut Kompiang Longa (longa: wijen).

Uniknya, Kompiang hanya cocok disajikan dalam kondisi hangat atau panas sembari ditemani kopi tau teh.

Cita rasa Kompiang akan hilang jika dimakan dalam kondisi dingin atau tanpa kopi atau teh.

Seakan ada perpaduan rasa yang menyengat ketika mencicipi Kompiang sambil menyeduh kopi.

Apalagi kopi yang diminum bukan kopi sembarangan, tapi kopi Manggarai atau kopi Bajawa, dua jenis kopi dari Flores yang cita rasanya sangat enak dan sudah dipromosikan ke tingkat internasional.

Pada tahun 2015, kopi Manggarai pernah dicanangkan sebagai kopi terbaik di Indonesia.

Jenis kopi unggul di Manggarai adalah kopi Arabika. Ukuran bijinya lebih besar dari kopi lain dan warnanya lebih berkilau.

Dan bagi mereka yang ingin menjadikan Kompiang sebagai oleh-oleh ketika pulang dari Flores atau Labuan Bajo, Kompiang harus terlebih dahulu dipanaskan atau digoreng agar tetap hangat ketika disajikan.

Menariknya, Kompiang dibuat dengan bahan khusus agar lebih tahan lama, sehingga sangat cocok sebagai oleh-oleh bagi mereka yang bepergian jauh.

Dan satu lagi, Kompiang Manggarai ini benar-benar khas, tidak seperti yang ditemukan di daerah lain seperti Semarang, Surabaya, Malang, Solo, atau Kupang.

Jika kamu ke Labuan Bajo, moment terbaik untuk mencicipi Kompiang adalah saat sore hari ketika matahari mulai tenggelam di balik Bukit Cinta.

Berasal dari China

Meski menjadi makanan khas Manggarai, tapi jika dilihat dari sejarahnya, Kompiang bukanlah benar-benar makanan khas dari daerah ini.

Disebutkan bahwa Kompiang mula-mula merupakan makanan orang China atau suku bangsa Tionghoa. Tepatnya berasal dari Fuzhou, ibu kota Provinsi Fujian.

Kompiang dalam bahasa China dikenal dengan Guang Bing. Kisah di balik penemuan Kompiang begitu epik.

Diceritakan bahwa Kompiang dibuat oleh para tentara pimpinan Qi Jiguang, seorang panglima perang di Fujian pada tahun 1562.

Jiquang membuat kue ini sebagai cara atau alat untuk mengalahkan musuhnya, yaitu Jepang.

Dengan Kompiang, Jepang akhirnya tidak bisa lagi mendeteksi keberadaan pasukan Jiquang.

Sebelumnya, perompak Jepang dengan mudah mengetahui lokasi pasukan China karena aroma masakan yang mereka bawa dan makan.

Sedangkan pasukan Jepang membawa bekal nasi kepal (onigiri) yang tidak lagi dimasak. Jiguang akhirnya meminta anak buahnya membuat makanan yang menyerupai onigiri.

Diberinya nama Guang Bing. Makanan ini bisa tahan lama dan keras.

Di bagian tengahnya diberi lubang untuk menyelipkan tali sehingga mudah dibawa ketika disematkan pada leher para tentara. Akhirnya, Jepang berhasil dikalahkan.

Nama Kompiang akhirnya beredar luas di antara masyarakat Tionghoa sebelum menyebar ke seluruh dunia.

Muncul di Ruteng Tahun 1980-an

Menurut penuturan warga setempat, Kompiang di Manggarai sebetulnya berpusat di Ruteng, ibukota kabupaten Manggarai.

Untuk diketahui bahwa sebutan Manggarai lebih merujuk kepada daerah yang teritori yang menggunakan bahasa Manggarai.

Ada tiga kabupaten yang menggunakan bahasa Manggarai, yaitu Manggarai, Manggarai Timur dan Manggarai Barat (kerap disebut Manggarai Raya). Dua kabupaten terakhir merupakan pemekaran dari kabupaten induk, yaitu Manggarai.

Salah satu pembuat Kompiang di Ruteng adalah sebuah keluarga Tionghoa. Mereka memiliki toko yang khusus menjual Kompiang. Namanya Toko Tarsan.

Namun seiring waktu, pusat-pusat penjualan dan pembuatan Kompiang mulai menyebar. Tidak hanya di Ruteng, tapi juga di Labuan Bajo dan daerah lain.

Meski begitu, Kompiang yang diproduksi Toko Tarsan selalu menarik konsumen. Selain karena cita rasa yang berbeda dengan pembuat lain karena racikan bumbu yang unik, toko ini dikenal sebagai satu-satunya pembuat Kompiang pertama di Ruteng.

Saban tahun, saya pernah membeli Kompiang di Toko Tarsan, dalam suatu perjalanan ke kota Ruteng.

Sejak pagi, para pemesan sudah mengantre seperti ular di depan toko.

Antrean terjadi bukan karena jumlah pemesan yang banyak, melainkan karena toko ini menyediakan Kompiang yang benar-benar masih panas, sehingga dipesan terlebih dahulu baru dibuat.

Itulah yang membedakan Toko Tarsan dengan toko-toko lain di Ruteng yang umumnya menjual Kompiang yang sudah dingin.

Pemilik Toko Tarsan, Harianto, dalam wawancara dengan Floresa.co (2014) pernah menuturkan bahwa Kompiang mulai masuk ke Ruteng pada sekitar tahun 1983-1984.

Sebagai keturunan Tionghoa di tanah Manggarai, ibunya berkeinginan membuat kue khas China di Ruteng.

Berbeda dengan model pembuatan di China, di Ruteng, keluarga Harianto menghilangkan lubang di tengah Kompiang. Roti ini pun tampak bulat dan lebih utuh.

Sesuai dengan kondisi pada masanya, pembuatan Kompiang mula-mula masih amat sederhana, yaitu menggunakan peralatan tradisional sehingga sangat lama.

Namun seiring perkembangan, pembuatannya lebih modern dan menjadi lebih cepat.

Bahan utama pembuatan Kompiang sebetulnya sama dengan kebanyakan roti pada umumnya, yaitu tepung terigu, gula, susu, ragi dan bahan-bahan lainnya. Namun, Toko Tarsan memiliki racikan unik bercita rasa tinggi.

Kini, Kompiang bisa Anda temukan di kedai-kedai kopi di Manggarai, terutama di Labuan Bajo.

Kompiang sangat cocok untuk dinikmati bersama dengan secangkir kopi panas pada pagi ataupun sore hari bersama keluarga atau teman-teman.

Di pasaran, Kompiang dijual dengan harga yang sangat terjangkau, yaitu hanya Rp1.000 per buah. Dibeli banyak pun tidak masalah. Karena Kompiang bisa bertahan sampai seminggu jika disimpan di kulkas atau lemari es.

Untuk Anda yang ingin bepergian ke Labuan Bajo, jangan lupa singgah di kedai-kedai kopi untuk mencicipi cita rasa Kompiang dari tanah Manggarai.*

Tag:

comments