Moeldoko: Masa Depan Bangsa Ada di Pundak Mahasiswa, Ajak Hindari Ideologi Sesat
search

Moeldoko: Masa Depan Bangsa Ada di Pundak Mahasiswa, Ajak Hindari Ideologi Sesat

Zona Barat
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. Foto: Politeia/Kantor Staf Presiden.

Politeia.id -- Kepala Staf Presiden Moeldoko menyebutkan bahwa masa depan bangsa sesungguhnya berada di pundak mahasiswa. Kreativitas, inovasi dan daya saing global para mahasiswa mendorong bangsa ke arah masa depan yang lebih kuat dan kompetitif.

Demikian disampaikan Moeldoko saat menjadi pembicara Pelatihan Kepemimpinan Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia (ISMEI) secara daring dari Situation Room Gedung Bina Graha Jakarta, Rabu (7/4).

Pada pelatihan bertema "Potret Kepemimpinan Masa Depan Menyongsong Tahun 2045" itu, Moeldoko menyatakan bahwa upaya yang perlu dilakukan untuk menuju 2045 harus mulai dari sekarang, terutama oleh generasi muda bangsa.

"Terutama mahasiswa. Karena masa depan ada di tangan kalian. Siapkan lah diri sebaik-baiknya melalui berbagai kegiatan untuk mengisi proses `leadership` sehingga bisa memahami situasi, termasuk melakukan asesmen terhadap faktor-faktor internal maupun eksternal," ujar Moeldoko.

Mantan Panglima TNI itu menandaskan bahwa untuk masa depan yang lebih kuat, mahasiswa atau generasi muda tidak hanya dibekali dengan ilmu pengetahuan atau ketrampilan.

Generasi muda harus didoktrin oleh ideologi yang benar mengenai kehidupan berbangsa dan bernegara.

Moeldoko menilai bahwa ideologi merupakan salah satu ancaman terbesar bangsa Indonesia saat ini. Salah menganut ideologi sesat, maka masa depan bangsa akan hancur.

"Satu hal lain yang sangat penting, Moeldoko menekankan pentingnya perhatian terhadap potensi ancaman ideologi," papar Moeldoko.

Untuk itu, pemerintah atau negara harus membekali dirinya dengan sumber daya yang kuat untuk menjaga stabilitas keamanan negara dari ancaman nyata ideologi sesat.

Menurut Moeldoko, ancaman ideologi dapat mengancam keutuhan negara dan stabilitas sosial dan politik.

Karena tanpa stabilitas sosial-politik, proses pembangunan tidak bisa berjalan dengan baik.

"Maka dari itu, diperlukan kepemimpinan yang kuat, tegas, berani mengambil keputusan, serta mau mendengar, yang didukung analisis memadai dari bawahan, dari akademisi, praktisi dan komponen masyarakat lainnya," tutur Moeldoko.

Stabilitas Politik untuk Visi Negara Maju

Ia mengatakan bahwa stabilitas politik dan penanganan ideologi sesat di masyarakat sangat diperlukan untuk mendukung visi Indonesia Maju.

Salah satu visi tersebut adalah mengeluarkan Indonesia dari kategori negara miskin menjadi negara maju.

Syarat negara maju adalah harus memiliki pendapatan per kapita tinggi. Indonesia sedang berjuang untuk bisa mencetak PDB lebih dari US$23 ribu pada tahun 2045, atau 100 tahun kemerdekaan Indonesia.

"Indonesia mempunyai cita-cita untuk menjadi negara maju di tahun 2045. Terutama dengan nilai PDB terbesar ke-5 di dunia pada tahun 2045 dengan pendapatan per kapita lebih dari US$23.000 dari posisi tahun 2020 sebesar US$3.912," terang Moeldoko.

Namun ia menggarisbawahi bahwa untuk menjadi negara maju di 2045, diperlukan pertumbuhan ekonomi yang konsisten antara 5,7-6,2% per tahun.

Karena itu, diperlukan koordinasi yang baik dari setiap instansi dan lembaga terkait untuk bersama-sama mengatasi pandemi dan sekaligus memulihkan perekonomian, terutama di masa pandemi Covid-19 saat ini.

"Dengan demikian, diharapkan kita tidak hanya mampu keluar dari krisis, tetapi sekaligus menggunakan momentum ini untuk melakukan perubahan-perubahan mendasar menuju Indonesia yang lebih baik," harap Moeldoko.*

Tag:

comments