Survei SMRC: Mayoritas Warga Jakarta dan Pendukung Anies Baswedan Tolak Pembubaran FPI
search

Survei SMRC: Mayoritas Warga Jakarta dan Pendukung Anies Baswedan Tolak Pembubaran FPI

Zona Barat
Anies Baswedan mengunggah foto sedang membaca buku "How Democracies Died" karya Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt (2018). Foto: Instagram.

Politeia.id -- Survei nasional yang dirilis Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menyatakan bahwa mayoritas warga DKI Jakarta, pendukung Gubernur Anies Baswedan dan etnis Betawi menolak pembubaran Front Pembela Islam (FPI).

Selain itu, pendukung PAN, PKS, dan PPP juga cenderung menolak keputusan pembubaran FPI.

"Ini menunjukkan yang tidak setuju dengan langkah pemerintah membubarkan FPI tahun lalu dapat diidentifikasi berdasarkan klaster tertentu," ujar Manajer program SMRC, Saidiman Ahmad kepada Politeia.id di Jakarta, Selasa (6/4).

Pemerintah secara resmi telah membubarkan organisasi massa FPI dan melarang setiap kegiatan yang dilakukan atas nama FPI tahun lalu.

Keputusan itu disampaikan setelah rapat bersama yang dilakukan di Kantor Kementerian Politik, Hukum, dan Keamanan pada 30 Desember 2020.

Ada enam menteri atau kepala lembaga yang menandatangani Surat Keputusan Bersama mengenai penghentian atau pembubaran FPI.

Keenamnya menuangkan Surat Keputusan Bersama Nomor 220/4780 Tahun 2020, Nomor M.HH/14.HH05.05 Tahun 2020, Nomor 690 Tahun 2020, Nomor 264 Tahun 2020, Nomor KB/3/XII Tahun 2020, dan Nomor 320 Tahun 2020 tentang Larangan Kegiatan Penggunaan Simbol dan Atribut Serta Penghentian Kegiatan FPI.

Saidiman menjelaskan bahwa dalam survei yang dilakukan secara daring ini ditemukan bahwa mayoritas warga mendukung pembubaran FPI (59%).

Sementara itu, hanya 35 persen masyarakat yang menolak FPI dibubarkan, termasuk di dalamnya mayoritas warga Jakarta.

Lima Perspektif Survei

Saidiman mengatakan bahwa ada lima perspektif untuk melihat kecenderungan dukungan atau penolakan terhadap pembubaran FPI.

Pertama, dari perspektif pilihan Calon Presiden, kecenderungan terkuat untuk menolak pembubaran FPI datang dari warga yang mendukung Anies Baswedan.

Sebanyak 73 persen pendukung Anies menyatakan menolak pembubaran FPI.

Selanjutnya, ada 55 persen pendukung Sandiaga Uno dan 41 persen pendukung Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menolak pembubaran FPI.

Sebaliknya, kecenderungan terkuat untuk mendukung pembubaran FPI adalah warga pendukung Tri Rismarini (86%) dan Ganjar Pranowo (80%).

Kedua, dilihat dari sisi partai yang didukung, kecenderungan terkuat untuk menolak pembubaran FPI datang dari warga yang memilih PAN (76%), PKS (68%), dan PPP (66%).

Sebaliknya, kecenderungan terkuat untuk mendukung pembubaran FPI datang dari warga yang memilih PDIP (88%), Nasdem (72%), dan PKB (70%).

Ketiga, dilihat dari sisi etnik, yang paling kuat menolak pembubaran FPI adalah warga Betawi (80%).

Keempat, dilihat dari wilayah, yang terkuat menolak pembubaran FPI adalah warga DKI Jakarta (66%).

Sementara yang paling kuat mendukung pembubaran FPI adalah warga Jawa Timur (78%).

Terakhir, terdapat pula perbedaan dalam hal penilaian mengenai pembubaran FPI atas dasar kepuasan terhadap kinerja Presiden.

Sekitar 68 persen warga yang puas dengan kinerja Presiden Joko Widodo menyatakan mendukung pembubaran FPI. Hanya 25 persen yang tidak setuju.

Sebaliknya, 61 persen warga yang tidak puas dengan kinerja Presiden Jokowi menyatakan tidak setuju dengan pembubaran FPI, sementara yang setuju hanya 32 persen.

Adapun survei online yang dilakukan SMRC bertajuk "Sikap Publik Nasional terhadap FPI dan HTI".

Survei berskala nasional ini dilakukan pada 28 Februari - 5 Maret 2021 dengan melibatkan 1064 responden yang dipilih secara acak.

Margin of error survei ini diperkirakan +/- 3,07 persen.*

Tag:

comments