Sosok Anton Medan, Preman Legendaris Indonesia yang Gemar Kunjungi Lapas
search

Sosok Anton Medan, Preman Legendaris Indonesia yang Gemar Kunjungi Lapas

Zona Barat
Anton Medan, preman legendaris Indonesia yang gemar kunjungi lapas. Foto: BBC

Politeia.id -- Preman legendaris Indonesia, Anton Medan meninggal dunia di kediamannya di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (15/3). Anton Medan meninggal dunia setelah melawan sakit stroke yang dideritanya.

Anton Medan memiliki sejarah panjang di dunia kejahatan. Namun, sebelum Anton Medan menghembuskan nafas terakhir, pria yang berganti nama menjadi Muhammad Ramdhan Effendi itu telah menyiapkan pemakamannya sendiri.

Siapa Anton Medan?

Melansir Wikipedia, Anton Medan lahir di Tebing Tinggi, Sumatra Utara, 10 Oktober 1957. Anton lahir dengan nama Tan Hok Liang dan kemudian bernama Muhammad Ramdhan Efendi ketika resmi memeluk agama Islam pada 1992.

Ia kemudian mendirikan sebuah masjid, Masjid Jami `Tan Hok Liang, di Pondok Rajeg, Cibinong, Bogor.

Sebelum masuk Islam, dia dibesarkan di tengah-tengah politik gelap Indonesia selama pemerintahan Orde Baru Suharto dimana gangster digunakan dalam politik, bisnis dan instansi pemerintah.

Pada tahun 1998, Anton Medan dijadikan kambing hitam untuk orkestrasi Kerusuhan Jakarta setelah tuduhan itu diam-diam dicabut.

Kerusuhan yang awalnya merupakan demonstrasi mahasiswa untuk memprotes presiden Indonesia Soeharto berubah menjadi demonstrasi anti-Tionghoa di ibu kota Jakarta.

Meskipun Anton Medan keturunan Tionghoa, tapi dia turun ke jalan dan ikut kerusuhan untuk membuktikan bahwa dia setia kepada rakyat tapi dia sendiri yang jadi sasaran.

Dalam kekacauan politik tahun 1998, dilaporkan pula bahwa Prabowo Subianto, menantu Soeharto dan Panglima Kopassus, telah merekrut dan memanipulasi Anton Medan untuk mendapatkan pendukung militan.

Dalam penyidikan kerusuhan 1998, Anton Medan membantah tuduhan terlibat aktif di balik layar, meski mengaku berada di tengah-tengah massa. Namun, ia menolak untuk bersaksi kecuali Komnas HAM merehabilitasi namanya terlebih dahulu.

Jejak dakwah Anton Medan

Kepada wartawan, Wakil Ketua Umum PITI Arta Dharmadi mengatakan Anton Medan telah mengalami sakit sejak tiga bulan terakhir. Menurut Arta, sejak mengalami sakit itu Anton Medan tak lagi berdakwah.

"Sampai beliau ini belum sakit itu jadi Ramadan tahun kemarin itu beliau masih safari dakwah ke lapas-lapas. Jadi beliau dakwah, tausiyah ke lapas-lapas. Itu semua dengan biaya sendiri," ujar Arta saat ditemui di rumah duka di Cibinong, Jawa Barat.

Arta mengatakan, Anton Medan merupakan pembina narapidana (napi) se-Indonesia. Menurut dia, almarhum juga sempat mendirikan Yayasan Pesantren untuk para napi.

Di yayasan tersebut, para napi yang baru keluar dari penjara dibina agar menjadi lebih baik saat kembali ke masyarakat. Tetapi. yayasan tersebut tak lagi beroperasi sejak beberapa tahun terakhir setelah kesehatan almarhum menurun.

Arta mengatakan Anton Medan memiliki perhatian lebih kepada para napi. Sebab, almarhum Anton Medan juga sempat mendekam di penjara dan mendapat hidayah di sana.

"Beliau ini kan terlahir dari keluarga miskin. Dulu beragama Buddha, pernah masuk penjara. Dari umur 12 tahun udah masuk penjara. Kalau dijumlah-jumlah itu ya 18 tahun 7 bulan almarhum pernah dipenjara dan dapet hidayahnya pada saat di penjara," kata Arta.

Tag:

comments