Duduk Kasus Bank Bukopin yang Menyeret Nama Eks Wapres Jusuf Kalla
search

Duduk Kasus Bank Bukopin yang Menyeret Nama Eks Wapres Jusuf Kalla

Zona Barat
Eks Wapres Jusuf Kalla menandatangani dua prasasti pabrik Bosowa Semen Banyuwangi, Terminal LPG Banyuwangi dan kantung semen Bosowa di kawasan pabrik, Kalipuro, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (15/12/2016). Foto: Tribunews.com. IKut mendampingi Wapres, Founder Bosowa AKsa Mahmud, CHairman Bosowa Erwin Aksa, CEO Bosowa Sadikin Aksa, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto Menkominfo Rudiyantara, Gubernur Jatim Sukarwo, Bupati Banyuwangi Azwar Anas Abdullah.

Politeia.id -- Nama eks Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) terseret dalam pusaran kasus Bank Bukopin, setelah keponakannya Sadikin Aksa ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara tindak pidana perbankan dalam proses penyelamatan Bank Bukopin tahun 2020.

Sadikin Aksa menjadi tersangka atas perbuatan yang diduga dengan sengaja mengabaikan dan/atau tidak melaksanakan perintah tertulis dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Di media sosial Twitter, keyword ‘Tangkap Chaplin’ bergema tak lama setelah Bareskrim Polri mengumumkan penetapan tersangka Sadikin Aksa.

Adapun cuitan dengan keyword ‘Tangkap Chaplin’ tersebut didominasi oleh cuitan dan gambar sosok Jusuf Kalla yang merupakan sosok Paman dari Sadikin Aksa yang menjadi tersangka kasus Bukopin tersebut.

Dari beberapa cuitan yang menggunakan keyword ‘Tangkap Chaplin’ tersebut, beberapa pihak menduga adanya keterlibatan Jusuf Kalla dalam kasus yang menjerat ponakannya, Sadikin Aksa.

Sadikin Aksa merupakan Dirut PT Bosowa Corporindo yang didirikan oleh ayahnya Aksa Mahmud.

Aksa menikahi Ramlah Kalla, adik Jusuf Kalla dan memiliki 5 orang anak. Salah satunya ialah Sadikin Aksa, yang kini menjadi tersangka dalam perkara ini.

Bosowa Corp merupakan perusahaan yang bergerak di bidang Otomotif, Semen, Logistik & Transportasi, Pertambangan, Properti, Jasa Keuangan, Infrastruktur, Energi, Media, dan Multi Bisnis.

Aksa Mahmud juga memiliki saham di PT Bank Bukopin Tbk dan PT Bank QNB Kesawan Tbk. Di Bank Bukopin, PT Bosowa Corporindo tercatat sebagai pemegang saham sebanyak 23 persen.

Sejak bulan Mei 2018, PT Bank Bukopin Tbk telah ditetapkan sebagai bank dalam pengawasan intensif oleh OJK karena permasalahan tekanan likuiditas.

Kondisi tersebut semakin memburuk sejak bulan Januari hingga Juli 2020. OJK telah mengeluarkan kebijakan dalam rangka upaya penyelamatan Bank Bukopin, di antaranya memberikan perintah tertulis kepada Dirut PT Bosowa Corporindo atas nama Sadikin Aksa melalui surat OJK pada tanggal 9 Juli 2020.

Surat itu berisikan tentang perintah tertulis pemberian kuasa khusus kepada Tim Technical Assistance (Tim TA) dari PT BRI untuk dapat menghadiri dan menggunakan hak suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bank Bukopin Tbk dengan batas waktu pemberian kuasa dan penyampaian laporan pemberian surat kuasa kepada OJK paling lambat 31 Juli 2020.

"Akan tetapi PT Bosowa Corporindo tidak melaksanakan perintah tertulis tersebut," kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Polri Brigjen Pol Helmy Santika, Rabu (10/3).

Dalam penyelidikan ditemukan fakta bahwa setelah surat dari OJK diterbitkan pada 9 Juli 2020, Sadikin Aksa mengundurkan diri sebagai Dirut Bosowa Corporindo pada 23 Juli 2020. Tetapi pada tanggal 24 Juli 2020, Sadikin Aksa masih aktif dalam kegiatan bersama para pemegang saham Bank Bukopin maupun pertemuan dengan OJK pada tanggal 24 Juli 2020.

Namun Sadikin Aksa justru tidak menginformasikan soal pengunduran dirinya sebagai Dirut PT Bosowa Corporindo.

Tidak hanya itu, Sadikin Aksa pada tanggal 27 Juli 2020 juga mengirimkan foto surat kuasa melalui aplikasi "Whatsapp" kepada Dirut Bank Bukopin dengan mencantumkan jabatannya sebagai Dirut PT Bosowa Corporindo.

Atas dasar inilah Bareskrim menjadikan Sadikin Aksa sebagai tersangka. Ia diduga melanggar Pasal 54 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang OJK.

Hukuman penjara paling singkat dua tahun dan denda paling sedikit Rp 5 miliar atau pidana penjara paling lama enam tahun dan pidana denda paling banyak Rp 15 miliar.

Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Petrus Selestinus mengapresiasi langkah Bareskrim Polri yang telah menetapkan Dirut PT Bosowa Corporindo, Sadikin Aksa yang juga merupakan keponakan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) sebagai tersangka dalam kasus Bank Bukopin.

Kendati demikian, dia menilai penyebutan nama JK di media sosial terkait kasus Bank Bukopin tidak proposional.

Menurutnya, pengungkapan kasus tersebut menjadi trending bukan karena angka kerugian yang diderita Bank Bukopin, namun karena Sadikin Aksa merupakan keponakan JK.

Petrus mengatakan, jika Bareskrim Mabes Polri melakukan penyidikan hanya pada aspek Tindak Pidana Perbankan dengan melibatkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), maka Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus proaktif menyelidiki dari aspek tindak pidana korupsi (tipikor).

Alasannya, kata Petrus, Bank Bukopin merupakan perusahaan negara. Dengan demikian, KPK tidak boleh terpaku pada akitivitas OTT atau hanya sekedar mensupervisi langkah Bareskrim.

Menurut Petrus, sangat beralasan hukum jika KPK segera melakukan penyelidikan dan penyidikan untuk memastikan apakah ada peristiwa korupsi dan pencucian uang di dalamnya, termasuk apakah ada intervensi kekuasaan yang melibatkan JK selaku wakil presiden atau setidak-tidaknya terdapat praktek mendagangkan pengaruh jabatan JK selaku wapres.

"KPK lebih baik segera melalukan langkah penyelidikan dan penyidikan secara progresif dan simultan guna memastikan apakah ada dugaan tindak pidana korupsi dan tindak pidana pencucian uang atau tidak dalam tindak pidana perbankan tersebut, mengingat Bank Bukopin merupakan bank plat merah, yang disebut-sebut terdapat saham keluarga JK atas nama PT. Bosowa Corporindo," jelas advokat Peradi ini.

Lebih lanjut Petrus mengatakan, modus korupsi dengan mendagangkan pengaruh selalu masuk akal sehat. Alasannya, tipologi korupsi di Indonesia secara umum terjadi karena terdapat pihak-puhak yang senantiasa membawa nama seseorang dengan jabatan negara yang tinggi untuk mempengaruhi pejabat yang bersangkutan dalam pengambilan keputusan yang menguntungkan bagi Sadikin Aksa dkk. dalam PT Bank Bukopin.

Tag:

comments