Vox Point Indonesia Diminta Jadi Laboratorium Keberagaman
search

Vox Point Indonesia Diminta Jadi Laboratorium Keberagaman

Zona Barat
Direktur Jenderal Bimas Katolik Yohanes Bayu Samodro saat memberikan sambutan pada Misa Ulang Tahun ke-5 Vox Point Indonesia, Sabtu (13/3). (Foto: Youtube Hidup Tv).

Politeia.id -- Direktur Jenderal Bimas Katolik Yohanes Bayu Samodro meminta organisasi kader Katolik Vox Point Indonesia untuk lebih menampilkan diri sebagai laboratorium keberagaman, sebuah wadah yang membentuk setiap kadernya sebagai perawat indahnya keberagaman.

"Setiap kader yang pada dasarnya berasal dari masyarakat harus mampu merepresentasikan nilai-nilai yang baik dan mencerahkan bagi masyarakat yang beragam," kata Bayu dalam sambutannya pada Misa Ulang Tahun ke-5 Vox Point Indonesia, Sabtu (13/3).

Hal itu, lanjutnya, menjadi relevan saat ini ketika isu disintegrasi, intoleransi dan radikalisme semakin menguat di tengah masyarakat. Menurut Bayu, soal keberagaman tetap menjadi tantangan kehidupan kebangsaan masyarakat Indonesia ke depan.

"Pemerintah sungguh menyadari hal ini dan karenanya Kementerian Agama sudah menawarkan konsep moderasi beragama," jelasnya.

Menurut Bayu, moderasi beragama penting untuk Indonesia karena masyarakatnya sangat religius dan sekaligus majemuk. Meskipun bukan negara berdasar agama tertentu, masyarakat Indonesia, jelasnya, sangat lekat dengan kehidupan beragama.

"Nyaris tidak ada satu pun urusan sehari-hari yang tidak berkaitan dengan agama. Itu mengapa, kemerdekaan beragama juga dijamin oleh konstitusi kita," katanya.

Karena itu, ia meminta Vox Point Indonesia untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan beragama itu dengan komitmen kebangsaan untuk menumbuhkan cinta tanah air. Apalagi saat ini, meski baru berusia 5 tahun, organisasi ini sudah hadir di 27 Keuskupan dengan 20 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan 76 Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) di seluruh Indonesia.

Ia mengharapkan organisasi yang dipimpin Yohanes Handojo Budhisedjati itu untuk semakin kencang mendorong terciptanya ruang dialog yang multikultural sebagai etalase kehidupan masyarakat yang berperadaban tinggi.

"Vox Point Indonesia diharapkan bisa menjadi promotor kebudayaan yang dapat memajukan peradaban Indonesia lebih berkualitas," katanya.

Sebagai ormas Katolik, Bayu juga meminta Vox Point Indonesia untuk bergerak bersama hirarki. Menurutnya, meskipun secara organisasi independen, setiap ormas Katolik tetap harus berkoordinasi dengan hirarki setempat, agar gerak dan langkahnya bersinergi.

Misa yang disiarkan dari Katedral Jakarta itu dipimpin Uskup Keuskupan Agung Jakarta Monsignor Igantius Kardinal Suharyo. Dalam khotbahnya, Uskup Suharyo berharap Vox Point Indonesia, sejalan dengan taglinenya untuk mengembangkan nilai-nilai kebangsaan, terus menjadi garam dan terang dunia, menjadi teladan dalam merawat keberagaman.

"Bukan sekadar karena keberagaman adalah bingkai pemersatu bangsa Indonesia. Lebih dari itu, keberagaman adalah nilai kemanusian universal yang dalam terang iman Kristiani mendapat tempat istimewa," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Vox Point Indonesia, Yohanes Handojo Budhisedjati, menyampaikan fokus utama organisasinya ke depan adalah pada bidang pendidikan, pancasila, ketenagakerjaan, pariwisata, narkoba dan psikotropika, serta dua permasalahan yang sedang aktual yakni masalah kebangsaan dan toleransi dan masalah Papua.

"Ruang gerak yang jelas inilah yang memberikan semangat Voxian untuk berkarya," jelasnya.

"Dan di masa pandemi ini, beberapa daerah sedang menggerakan Pemberdayaan Ekonomi Umat sehingga diharapkan ada sebuah gerakan bersama untuk menciptakan kesempatan berpenghasilan," tutupnya.

Tag:

comments