Pengamat Sebut Polemik Kerumunan di Maumere Ingin Menggulingkan Jokowi
search

Pengamat Sebut Polemik Kerumunan di Maumere Ingin Menggulingkan Jokowi

Zona Barat
Pengamat politik Maksimus Ramses Lalongkoe. Foto: Politeia.id/MM

Politeia.id -- Pengamat politik Maksimus Ramses Lalongkoe menilai polemik kerumunan di Maumere, Kabupaten Sikka, saat peresmian Bendungan Napun Gete lebih bersifat politis untuk menjatuhkan Presiden Jokowi.

Pasalnya, kata Ramses, pihak yang terus mengkritik kerumunan tersebut dikenal sebagai oposan Jokowi.

"Sebetulnya kasus ini digiring oleh kelompok tertentu untuk menjatuhkan Jokowi. Apalagi mereka yan kritik ini dari kelompok yang sama, dari jalur yg sama, oposisi. Jadi tidak heran ada nuansa politisnya," kata Ramses dalam diskusi yang digelar Rumah Kebudayaan Nusantara secara daring, Minggu (28/2).

Ramses menilai Jokowi bukan pihak yang harus disalahkan dalam kerumunan di Maumere. Sebab saat itu Jokowi hanya sebagai tamu undangan untuk meresmikan Bendungan Napun Gete.

"Dalam konteks Undang-undang Kekarantinaan, yang bertanggungjawab adalah kepala daerah untuk suatu kegiatan. Kalau dilemparkan ke Jokowi, itu kekeliruan besar dan ada nuansa politis untuk menjatuhkan Jokowi," tegas dia.

Ramses pun menilai tindakan Polri yang menolak laporan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam (PP GPI) terkait adanya dugaan pelanggaran protokol kesehatan yang dilakukan Jokowi dan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Laiskodat sudah tepat.

"Ada nuansa politik di laporan itu," kata Ramses.

Di sisi lain, Koordinator Tim Pembela Demokrasi (TPDI), Petrus Selestinus menyoroti pernyataan politisi Partai Gerindra Fadli Zon, pengamat politik Rocky Gerung dan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas.

Menurut dia, ketiganya coba menarik peristiwa kerumunan warga Maumere ke dalam kasus kerumunan massa Rizieq Shihab, yang tentunya berharap agar Jokowi juga diproses secara hukum.

"Mereka memaksa publik harus menerima cara berpikir mereka bahwa apa yan terjadi di Maumre sama dengan Rizieq," kata Petrus dalam diskusi yang sama.

Petrus menjelaskan bahwa peristiwa kerumunan Jokowi di Maumere dan kerumunan Rizieq Shihab di Bandara Soekarno Hata merupakan dua hal yang berbeda. Apalagi, kata dia, Rizieq menjadi tersangka bukan karena kerumunan di Bandara Soetta, melainkan saat acara pernikahan anaknya di Petamburan.

"Pertemuan di Bandara Soekarno-Hatta kan dikordinasikan, digerakan, dan mereka ada dalam perkumpulan yang sama yakni FPI. Itu tidak dimintai pertanggungjawaban ke Rizieq karena dia tidak mengundang. Nah, di Petamburan jadi masalah hukum kaena Rizieq dan FPI undang jemaah," kata Petrus.

Tag:

comments