Defisit APBN Sudah Capai Rp45,7 Triliun pada Januari
search

Defisit APBN Sudah Capai Rp45,7 Triliun pada Januari

Zona Barat
Menteri Keuangan Sri Mulyani/Foto Spesial

Politeia.id -- Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat posisi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun anggaran 2021 sepanjang Januari lalu sebesar Rp45,7 triliun. Itu terjadi akibat pendapatan negara yang terkumpul baru Rp100 triliun sampai dengan Januari kemarin.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pendapatan tersebut jauh lebih kecil dibandingkan belanja negara yang sampai dengan Januari kemarin sudah mencapai Rp145 triliun.

Pencapaian defisit APBN dalam satu bulan itu setara dengan 0,26% terhadap produk domestik bruto (PDB) atau tumbuh tipis dari posisi periode sama tahun lalu yakni 0,23% dari PDB. Adapun di tahun ini outlook defisit anggaran mencapai 5,7% dari PDB.

"Defisit APBN 0,26 persen (lebih tinggi) dibandingkan (Januari) 2020 yang baru Rp34,8 triliun. Tidak terlalu banyak beda. Tapi ada kenaikan dibanding Januari 2020 sebelum ada covid," kata Menkeu dalam Konferensi Pers Realisasi APBN 2021 Periode Januari, Selasa (23/2).

Penerimaan negara loyo utamanya diakibatkan oleh setoran pajak yang masih mini karena dampak virus corona. Hal ini tercermin dari realisasi pajak penghasilan (PPh) Migas sebesar Rp 2,3 triliun, minus 19,8% yoy. Pencapaian PPh Migas lebih buruk dibandingkan pajak nonmigas yang kontraksi Rp 15,2% yoy.

Menkeu menyampaikan, penerimaan PPh migas masih minus meskipun harga migas pada bulan lalu lebih tinggi dari periode saat pandemi, tapi terpantau lebih rendah dibandingkan Januari 2020. Dus, ini mempengaruhi setoran pajak dari para wajib pajak di sektor migas.

Meskipun penerimaan negara merosot, tapi belanja negara tumbuh positif. Laporan APBN mencatat realisasinya mencapai Rp 145,8 triliun, tumbuh 4,2% yoy. Untuk belanja pemerintah pusat tumbuh 32,4% yoy dengan realisasi sebesar Rp 94,7 triliun.

Menkeu mengatakan, pencapaian belanja selama Januari 2021 ditujukan untuk mengakselerasi pemulihan ekonomi di tahun ini dari yang sudah berlangsung di akhir tahun lalu. Belanja ini termasuk program perlindungan sosial dari pemerintah yang bertujuan mendorong konsumsi masyarakat miskin.

“Terlihat dalam belanja semuanya positif growth dibandingkan Januari tahu lalu. Inilah yang kita sebutkan daya dorong belanja di Januari termasuk untuk belanja K/L dan non-KL,” kata Menkeu dalam Konferensi Pers Realisasi APBN 2021 Periode Januari, Selasa (23/1).

Sementara itu realisasi pembiayaan sepanjang Januari 2021 sebesar Rp 165,9 triliun tumbuh 140,7% secara tahunan. Angka tersebut juga setara dengan 16,5% dari outlook pembiayaan hingga akhir tahun ini yang mencapai Rp 1.006,4 triliun.

Tag:
comments