Kemenkes Tepis Isu Efek Anafilaktik Pasca Vaksinasi Covid-19
search

Kemenkes Tepis Isu Efek Anafilaktik Pasca Vaksinasi Covid-19

Zona Barat
Wakil Presiden Ma`ruf Amin melaksanakan vaksinasi Covid-19 di rumah dinas di Jakarta, Rabu (17/2). Foto: Politeia.id/Twitter.

Politeia.id -- Kementrian Kesehatan menepis isu yang beredar di masyarakat mengenai adanya efek samping berat pasca vaksinasi Covid-19.

Salah satu efek yang mungkin timbul pasca vaksinasi adalah apa yang disebut reaksi anafilaktik atau anafilaksis.

Reaksi anafilaktik adalah syok yang disebabkan oleh reaksi alergi yang berat ketika divaksinasi.

Menurut Kemenkes, reaksi anafilaktik memang terjadi pada penyuntikan vaksinasi Covid-19 skala besar.

Namun efek samping tersebut masih sangat jarang terjadi sampai saat ini.

Dari 1 juta dosis vaksin yang diberikan, hanya terjadi sebanyak 1 atau 2 kasus.

Kemenkes mengklaim bahwa reaksi tersebut sebetulnya tidak hanya terjadi pada vaksin Covid-19, tetapi juga pada beberapa suntikan antibiotik lainnya.

"Bukan hanya vaksin, reaksi anafilaktik juga bisa terjadi akibat dari antibiotik, kacang, nasi, maupun zat kimia," bunyi penjelasan Kemenkes dalam keterangan tertulis, Jumat (19/2).

Bila terjadi efek samping tersebut, Kemenkes menghimbau agar fasilitas pelayanan kesehatan segera mencari pertolongan yang cepat dan tepat.

Adapun syok anafilaktik mengakibatkan penurunan tekanan darah secara drastis sehingga aliran darah ke seluruh jaringan tubuh terganggu.

Dengan gangguan itu, muncul gejala berupa sulit bernapas, bahkan penurunan kesadaran pasien.

Ada beberapa alergen (penyebab alergi) yang bisa menyebabkan syok anafilaksis, antara lain obat-obatan, makanan, sengatan serangga, hingga pengawet makanan dan debu lateks.

Syok anafilaktik dapat terjadi dalam hitungan menit setelah penderita terpapar oleh penyebab alergi.

Syok anafilaktik biasanya terjadi 12 jam setelah seseorang mendapatkan vaksin atau antibiotik lainnya.

Jika terlambat ditangani, efek ini bisa menyebabkan kematian.

Komplikasi yang dapat timbul dari syok anafilaktik antara lain: gagal ginjal, aritmia, serangan jantung, kerusakan otak dan syok kardiogenik.

Penanganan dini sangat diperlukan agar kondisi dapat segera ditangani dan risiko terjadinya komplikasi atau risiko kemtian dapat dicegah.

Belakangan muncul rumor bahwa beberapa orang yang menerima vaksin Covid-19 kemudian meninggal.

Kemenkes sebelumnya telah menegaskan bahwa kematian tersebut disebabkan oleh vaksin Covid-19, melainkan oleh penyakit bawaan yang diderita penerima vaksin.

Dari beberapa hasil penelitian efek vaksin Sinovac di beberapa negara, belum ditemukan adanya kematian sebagai akibat dari vaksinasi.

Vaksin Sinovac sendiri memiliki nilai efikasi 65,3 persen. Ini memungkinkan sekitar 34,7 persen penerima vaksin masih terpapar virus baru tersebut.

Namun, Kemenkes mengatakan bahwa belum ditemukan risiko kematian atau efek samping berat pasca vaksinasi.

Adapun program vaksinasi telah menyasar lebih adri 1 juta tenaga kesehatan sejak diberikan pada 13 Januari lalu.

Program vaksinasi masih terus berlanjut dengan menyasar kelompok pejabat publik, lansia dan masyarakat umum berusia di atas 18 tahun.

Vaksinasi massal diberikan selama rentang waktu Januari 2021 sampai dengan Maret 2022 atau sekitar 15 bulan.

Sementara itu, akumulasi kasus positif Covid-19 di Indonesia per 18 Februari telah mencapai 1.252.685 kasus, tersebar di 34 provinsi dan 510 kabupaten/kota.

Dari jumlah itu, sebanyak 1.058.222 sembuh dan 33.969 meninggal.

Pada Kamis, terjadi penambahan kasus positif sebanyak 9.039 orang, sembuh 10.546 orang dan meninggal 181 orang.

Sejauh ini, pemeriksaan spesimen telah mencapai 10.188.747 spesimen.

Sementara itu, jumlah kasus aktif sebanyak 160.494 kasus dan kasus suspek sebanyak 82.444 orang.*

Tag:
comments