Pesan Rabu Abu Uskup Agung Jakarta: Covid-19 bukan Hukuman dari Tuhan
search

Pesan Rabu Abu Uskup Agung Jakarta: Covid-19 bukan Hukuman dari Tuhan

Zona Barat
Peringatan Rabu Abu. Foto: Learn Religions

Politeia.id -- Pada penerimaan abu pada Rabu Abu 2021 sebagai tanda pertobatan, Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo meminta umat Katolik Indonesia untuk mengembalikan hidup mereka ke jalur relasi dengan Tuhan untuk menghadapi tantangan yang disebabkan oleh pandemi Covid-19.

“Betapapun beratnya kenyataan yang kita hadapi, kita harus tetap percaya bahwa Tuhan itu kasih,” tulis Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo dari Jakarta dalam surat pastoral Prapaskah, mengutip Vatican News.

“Seperti tahun lalu, kita memasuki masa Prapaskah dalam masa-masa sulit akibat virus corona yang mengguncang semua bidang kehidupan,” kenangnya dalam surat yang dibacakan di gereja-gereja keuskupan agung, Minggu (15/2).

Rabu Abu adalah yang pertama dari 40 hari Prapaskah (tidak termasuk hari Minggu), di mana umat Kristiani memberi dengan cara khusus untuk berdoa, penebusan dosa, puasa, pantang dan pekerjaan baik, dalam persiapan untuk pesta Paskah yang paling khusyuk yang memperingati kebangkitan Yesus yang mulia dari kematian.

Rabu Abu mengambil namanya dari abu yang ditempatkan di dahi atau kepala, mengingatkan orang-orang Kristen akan kematian dan perlunya pertobatan. Rabu Abu tahun ini jatuh pada 17 Februari.

Perspektif iman

Dalam pesannya, Uskup Agung Jakarta mengingatkan umatnya bahwa pandemi itu bukan hukuman yang diberikan oleh Tuhan karena dosa-dosa kita tetapi merupakan salah satu tanda jaman yang mengerikan, yang harus kita temukan maknanya dari sudut pandang iman kita.

Dia mengenang doa yang diucapkan Paus Fransiskus selama momen doa khusus yang dia pimpin di Lapangan Santo Petrus Roma pada 27 Maret tahun lalu, ketika jumlah kematian melonjak di Italia di tengah penguncian nasional untuk melawan penyebaran virus corona.

"Anda meminta kami untuk menggunakan waktu pencobaan ini sebagai waktu untuk memilih. Ini bukan waktu untuk menghakimi, tetapi untuk menilai kita: waktu untuk memilih apa yang penting dan apa yang berlalu, waktu untuk memisahkan apa yang perlu dari yang tidak. Ini adalah waktu untuk mengembalikan hidup kami ke jalur yang benar sehubungan dengan Engkau, Tuhan, dan orang lain," kata Bapa Suci.

Kardinal Suharyo mengakui bahwa “memilih apa yang penting dan apa yang mati” tidaklah mudah, karena banyak yang cenderung mengambil jalan yang mudah untuk bersenang-senang.

Prapaskah menurut dia menunjukkan waktu khusus yang diberikan oleh Gereja kepada umat beriman untuk melatih diri kita sendiri untuk memilih cara yang benar.

Layaknya seorang penderita kusta yang menolak untuk menyerah pada ketidakberdayaannya dan memilih untuk mengembalikan hidupnya ke jalur yang benar berkenaan dengan Tuhan,” katanya umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta ingin “memilih jalan yang benar di masa sulit ini” .

Slogan Prapaskah

Kardinal berusia 70 tahun yang juga ketua Konferensi Waligereja Indonesia ini merumuskan slogan Prapaskah: `Cintai Lebih Banyak, Lebih Libatkan Lebih Banyak, Jadilah Berkah Lebih.`

"Ini bukan hanya slogan yang bagus tapi akan jadilah penuntun bagi kita semua untuk maju sebagai pengikut Kristus," ujar dia.

Dia mengatakan umat Katolik dapat menempatkan slogan ini tanpa melanggar protokol kesehatan dan jarak sosial dan dengan bergabung dalam kampanye vaksinasi Covid-19 pemerintah, yang secara resmi diluncurkan bulan lalu.

Indonesia sangat terpukul oleh pandemi Covid-19. Kementerian kesehatan melaporkan 10.029 kasus infeksi baru pada 16 Februari, sehingga total menjadi 1.233.959. Korban tewas meningkat 229 menjadi 33.596.

Prapaskah memuncak dengan Pekan Suci, yang merayakan sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus, atau Paskah, yang tahun ini jatuh pada 4 April.

Tag:

comments