Cetak Laba Rp14T, DPR: Pertamina Bisa Ungkit Ekonomi Nasional
search

Cetak Laba Rp14T, DPR: Pertamina Bisa Ungkit Ekonomi Nasional

Zona Barat
Pertamina terus meningkatkan skala produksi energi nasional. Foto: Istimewa/Net.

Politeia.id -- Di tengah kontraksi ekonomi akibat dampak luas pandemi virus corona, PT Pertamina justru berhasil mencetak laba hingga US$1 miliar atau setara Rp14 triliun pada 2020.

Catatan tersebut sangat fantastik karena terjadi peningkatan kinerja keuangan yang luar biasa pada paruh kedua tahun 2020.

Pasalnya, pada semester I, Pertamina membukukan rugi sebesar Rp11 triliun.

Dengan capaian tersebut, DPR menilai bahwa perusahaan penambang terbesar milik pemerintah itu bisa mengungkit pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini.

Salah satunya dengan terus meningkatkan skala produksi energi untuk memperbesar kinerja ekspor dan menurunkan kran impor.

"Bangsa Indonesia menaruh harapan besar kepada PT Pertamina dan badan usaha terkait untuk membantu memulihkan ekonomi nasional (tahun ini)," ujar Wakil Ketua Komisi VII DPR Eddy Soeparno saat memimpin rapat dengar pendapat umum dengan Dirut PT Pertamina di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (9/2).

Eddy berharap, Pertamina bisa menyusun langkah strategis dan upaya-upaya prioritas dalam menggenjot produksi energi nasional.

Ia meminta Pertamina tidak hanya menyusun program prioritas 2021, melainkan juga harus mengevaluasi capaian perusahaan tahun 2019.

Di mana pada 2019, impor BBM mengalami penurunan 19,16 juta ton menjadi 16,85 juta ton pada 2020.

"Untuk harga rata-rata hasil minyak yang dilakukan Pertamina pada 2019 mengalami penurunan menjadi US$11,19 miliar dan US$26,66 miliar pada 2020," papar politisi PAN.

Hingga Oktober 2020, produksi minyak Pertamina EP mencapai 80.179 BOPD dan gas sebesar 854,12 MMSCFD.

Tahun ini, Pertamina berencana meningkatkan jumlah sumur pengeboran menjadi 132 pengeboran, 190 workover, dan 3.281 well services.

Program kerja tersebut merupakan komitmen perusahaan guna memenuhi kebutuhan energi nasional.

Selain untuk mendukung pencapaian target produksi migas sebesar 1 juta BOPD dan 12 BSCFD pada 2030.

Dalam rapat dengan Komisi VII DPR, Direktur Keuangan Pertamina Emma Sri Martini mengatakan laba perusahaan bisa meningkat karena audit masih belum selesai, baik oleh kantor akuntan publik (KAP) maupun Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Emma optimis Pertamina mencatatkan laba yang lebih besar meski pandemi masih meningkat hingga awal tahun ini.

Padahal, kata dia, perusahaan lain seperti British Petroleum BP membukukan rugi Rp80 triliun, dan Exxon rugi ratusan triliun.

"Alhamdulillah, kami dengan berbagai upaya sudah bisa menekan kerugian bahkan membukukan positif di akhir 2020," katanya.*

Tag:

comments