Senin Depan Diperiksa Polisi Terkait Kasus `Islam Arogan`, Abu Janda: Saya Siap
search

Senin Depan Diperiksa Polisi Terkait Kasus `Islam Arogan`, Abu Janda: Saya Siap

Zona Barat
KNPI (kiri) melaporkan Abu Janda (kanan) ke Bareskrim Polri terkait dugaan ujaran kebencian terhadap agama Islam. Foto: Kolase/Politeia.id.

Politeia.id -- Abu Janda dengan tegas menyatakan kesiapannya untuk diperiksa oleh Bareskrim Polri pekan depan terkait dugaan ujaran kebencian terhadap agama Islam.

Pemeriksaan itu dilakukan menyusul laporan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) tengah pekan ini karena dianggap menghina umat Islam melalui pernyataannya yang menyebut Islam sebagai agama arogan.

"Ya, harus dong, kita warga negara harus taat hukum ya, warga negara yang baik," kata Abu Janda kepada media di Jakarta, Sabtu (30/1).

Abu Janda mengakui bahwa pasca pernyataan kontroversialnya di media sosial tatkala membalas ucapan Ustadz Tengku Zulkarnain itu, publik terus menekan Polisi untuk memprosesnya.

Bahkan, tidak sedikit publik yang meminta Polisi untuk menangkapnya.

Sejak KNPI melaporkan kasusnya ke Bareksrim Polri pada Kamis, nama Abu Janda bahkan selalu menjadi trending.

Sabtu ini, lebih dari 60 ribu warganet membahas namanya di media sosial.

Topik-topik yang terkait dengan kasusnya, pun ikut trending.

Salah satunya topik soal ajakan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti untuk memboikot atau unfollow akun media sosialnya.

Tidak berhenti di situ, sejumlah tokoh politik dan ormas ikut bersuara, memintanya diproses hukum.

"Ini soalnya tekanan publiknya sudah besar sekali, gitu, jadi aku juga tidak mau memberikan kesan yang negatif," ujar Abu Janda.

Penggiat media sosial bernama asli Permadi Arya itu memastikan semua warga negara sama di depan hukum.

Salah satu anggota Banser itu juga mengaku tidak ingin memberikan citra buruk kepada penegak hukum sehingga akan menghadapi pemanggilan Polisi.

"Pokoknya semua warga negara itu harus sama, tidak boleh ada yang spesial. Aku juga nggak mau memberikan citra buruk kepada aparat penegak hukum," katanya.

Sementara itu, Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Slamet Uliandi mengatakan bahwa pemeriksaan terhadap Abu Janda akan dilaksanakan pada Senin (1/2), pekan depan.

"Untuk pemeriksaan (Abu Janda dilakukan) hari Senin," katanya, Sabtu.

Sebelumnya, KNPI melayangkan laporan terkait dugaan rasisme dan ujaran kebencian yang dilakukan Abu Janda dalam pernyataan di media sosial.

"Yang arogan di Indonesia itu adalah Islam sebagai agama pendatang dari Arab kepada budaya asli kearifan lokal. Haram-haramkan ritual sedekah laut, sampai kebaya diharamkan dengan alasan aurat," tulis Abu Janda di akun Twitter-nya, Minggu (24/1) lalu.

Pernyataan tersebut disampaikan saat Abu Janda beradu-pendapat dengan Ustaz Tengku Zulkarnain perihal sikap mayoritas dan minoritas.

Ustaz Tengku Zulkarnain mula-mula mengatakan bahwa dalam sejarahnya, ada fakta di mana kaum minoritas pernah bersikap arogan terhadap kaum mayoritas. Salah satunya terjadi di Afrika Selatan melalui politik apartheid.

Tengku Zulkarnain kemudian mengaitkannya dengan fenomena di Indonesia, di mana tidak kalah serunya kaum minoritas mulai menghina kaum mayoritas. Salah satunya dengan menghina para ulama.

"Dulu minoritas arogan terhadap mayoritas di Afrika Selatan selama ratusan tahun, apartheid. Akhirnya tumbang juga. Di mana mana negara normal tidak boleh mayoritas arogan terhadap minoritas. Apalagi jika yang arogan minoritas. Ngeri melihat betapa kini Ulama dan Islam dihina di NKRI,” tulis Tengku Zul, Minggu (24/1).

Tulisan tersebut kemudian dibalas Abu Janda yang mempersoalkan arogansi agama Islam pada kebudayaan lokal yang berkembang di Indonesia.

Menurut Abu Janda, agama Islam terlalu arogan dengan mengharamkan semua praktik kearifan lokal di masyarakat.

Namun, Tengku Zulkarnain menilai Abu Janda berbicara lewat batas dan bahkan dianggap menghina Islam.

Ustaz Tengku pun mengadukan dan melaporkan Abu Janda kepada Wakil Presiden Maruf Amin.

Dalam aduannya, Tengku Zulkarnain meminta perhatian dari Maruf Amin memproses hukum Abu Janda dengan komentarnya yang menyudutkan Islam.

"Kepada Yth Bapak Yai @KHMarufAmin Mohon bapak perintahkan Polisi utk proses hukum Abu Janda. Kalau tidak saya khawatir, jika tdk diproses, akan ada umat Islam yg marah dan bertindak di luar hukum. Malu NKRI di mata dunia. Matur Nuwun, Yai…," tulisnya.

Pernyataan Abu Janda dalam bingkai adu-argumen dengan Tengku Zul akhirnya berbuntut panjang.

Merasa Islam dirugikan oleh Abu Janda, KNPI pun melayangkan laporan ke Polri.

Pelaporan terhadap Abu Janda itu merupakan rangkaian dari kasus rasisme yang menimpa Natalius Pigai.

Dalam sebuah pernyataan awal Januari, Abu Janda diketahui pernah menyebut aktivis HAM asal Papua itu sebagai orang yang belum mengalami evolusi.

"Kau Natalius Pigai apa kapasitas kau? sudah selesai evolusi belum kau?" tulis Abu Janda di Twitter-nya, 2 Januari, untuk menanggapi pernyataan Pigai ke mantan Kepala BIN Hendropriyono.

Adapun Pigai menyebut Hendropriyono sebagai `dedengkot tua` lantaran purnawirawan jenderal itu memberi ancaman kepada eks anggota FPI.

"Orangtua mau tanya. Kapasitas bapak di negara ini sebagai apa ya, penasehat Presiden, pengamat? aktivis?. Biarkan diurus generasi abad ke-21 yang egaliter, humanis, demokrat. Kami tidak butuh hadirnya dedengkot tua. ...," tulis Pigai awal Januari lalu.

Menurut KNPI, pernyataan Abu Janda soal "sudah selesai evolusi belum", sangat tendensius dan mengarah kepada ujaran kebencian rasial.

Pernyataan itu secara tidak langsung menyerang bentuk fisik tidak hanya Pigai, melainkan juga masyarakat Papua yang seras dengan Pigai.

"Kata-kata evolusi menjadi garis bawah bagi kami untuk melaporkan akun @permariktivis1. Karena diduga telah menyebarkan ujaran kebencian," ujar Ketua Bidang Hukum KNPI Medya Riszha Lubis di Jakarta, Kamis (28/1).

Pada mulanya, tidak ada orang yang mempersoalkan ujaran kebencian Abu Janda terhadap Pigai kala itu.

Bom waktu kemudian meledak tatkala
Ambroncius Nababan, politisi Partai Hanura dan relawan Pro Jokowi-Amin (Projamin) melontarkan kebencian rasial yang sama terhadap Pigai pekan lalu.

Ambroncius mengunggah ujaran rasisme kepada Pigai di akun Facebook-nya, Minggu (24/1), waktu yang bersamaan dengan adu-pendapat antara Abu Janda dengan Tengku Zul.

Di dalam unggahannya, Pigai disandingkan dengan foto gorila disertai komentar terkait vaksin Sinovac yang sedang dicanangkan Jokowi.

"Edodoeee pace (panggilan untuk laki-laki dewasa asal Papua). Vaksin ko (kau) bukan Sinovac pace tapi ko pu (punya) sodara (saudara) bilang vaksin rabies," tulis Ambroncius, yang kemudian di-screenshot Pigai untuk diunggah di akun Twitter-nya, Minggu (24/1).

Terkait pernyataan rasial Nababan, publik pun bereaksi karena mantan Komisioner Komnas HAM terus-menerus menjadi korban rasisme tatkala mengkritik pemerintahan Jokowi.

Ambroncius pun dilaporkan ke Polisi dan saat ini penyidik Bareskrim Polri sudah menetapkan Ambroncius sebagai tersangka kasus dugaan penghinaan berbau rasialisme terhadap Pigai.

Ambroncius dijemput paksa penyidik Bareskrim Polri pada Selasa (26/1) malam dan langsung dijebloskan ke tahanan.*

Tag:

comments