Polisi Ringkus Pasutri Penipu Proyek Fiktif Senilai Rp39 Miliar
search

Polisi Ringkus Pasutri Penipu Proyek Fiktif Senilai Rp39 Miliar

Zona Barat
Polda Metro Jaya meringkus pasutri penipu proyek fiktif senilai Rp39 miliar. Foto: Politeia.id

Politeia.id -- Subdit 2 Harda Ditreskrimum Polda Metro Jaya menahan dua pelaku tindak pidana pencucian uang dalam proyek fiktif di Pondok Indah, Jakarta Selatan, yang terjadi sepanjang 2019.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan, para pelaku berhasil menguras korban untuk proyek fiktif tersebut senilai Rp39 miliar.

"Total kerugian korban kurang lebih Rp39 miliar," kata Yusri saat jumpa pers di Polda Metro Jaya, Rabu (27/1).

Ia mengatakan, pihaknya saat ini telah berhasil meringkus pasutri yang berinisial DK alias Donny Widjaja dan KA (istri Donny Widjaja).

"Dua tersangka yang sudah dilakukan penahanan. Yang pertama adalah saudara DK alias DW, dia yang mempunyai ide untuk melakukan penipuan ke proyek fiktif. Kedua, istrinya sendiri inisialnya KA," ungkap Yusri.

Yusri menerangkan, sepasang suami istri tersebut memiliki peran berbeda dalam melancarkan aksinya.

Donny merupakan orang yang memiliki ide untuk melakukan penipuan dan meyakinkan korban untuk bekerjasama dalam proyek fiktif.

Sedangkan, KA berperan menerima transferan uang dari Donny dan
membelikan sebuah rumah dan tanah kavling hasil kejahatan.

Pria kelahiran Sulawesi Selatan itu membeberkan modus operandi yang dilakukan para pelaku.

Awlanya, kata dia, DW memperkenalkan diri kepada korban dan mengatakan bahwa dirinya mantan menantu salah satu petinggi polisi.

Selain itu, dia mengaku memiliki pengalaman di bidang bisnis perminyakan dan memiliki banyak proyek yang menjanjikan banyak keuntungan.

Lantas, korban pun mengamini tawaran Donny. Kemudian, Donni menawarkan berbagai kerja sama proyek-proyek kepada korban.

Selanjutnya, ia meminta uang atau dana dalam rangka membiayai proyek-proyek yang ternyata fiktif tersebut.

Selain itu, tersangka juga meminta modal yang dibutuhkan dan menjanjikan keuntungan sehingga korban mengamini semua permintaannya.

"Modus operandi (pelaku) memperkenalkan diri kepada korban kemudian dia menyampaikan bahwa dia mantan menantu salah satu petinggi polisi. Sehingga dengan menyakinkan diri kepada sih korban setelah itu dia mulai bermain menawarkan bahkan ada beberapa proyek-proyek," terang Yusri.

Alumnus Akademi Kepolisian (Akpol) 1991 itu memerinci, pada Januari 2019, korban menawarkan proyek pembelian lahan kepada korban dengan harga Rp24 miliar.

Selanjutnya, April-Mei 2019 menawarkan proyek Suplay MFO Bojonegoro, Cilegon dengan mengucurkan dana sebesar Rp4,5 miliar.

Berikutnya, pelaku menawarkan proyek batubara senilai Rp5 miliar.

Juni 2019, pelaku mengajak korban untuk kerjasama pengelolaan parkir senilai Rp117 juta.

Pelaku juga menawarkan supplay MFO dengan total dana Rp3 miliar.

Terakhir, pelaku menawaran tanah di Depok sebesar Rp2,2 miliar.

Selain DW dan KA, Polisi juga telah menetapkan 5 tersangka lainnya, yaitu FCT, BH, FS, DWI, dan CN.

Atas perbuatannya, para pelaku dijerat dengan Pasal berlapis yakni Pasal 378 KUHP tentang penipuan, Pasal 263 KUHP tentang pemalsuan dokumen, Pasal 3 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang TPPU dengan ancaman 20 tahun penjara.*

Tag:

comments