Indonesia Mulai Vaksinasi, Pakar Kesehatan Dunia Peringatkan Efektivitas Sinovac
search

Indonesia Mulai Vaksinasi, Pakar Kesehatan Dunia Peringatkan Efektivitas Sinovac

Zona Barat
Pakar sistem kesehatan dunia Yanzhong Huang. Foto: News Beezer/Net.

Politeia.id -- Indonesia dan Turki telah memulai proses vaksinasi dalam upaya pencegahan dan menciptakan `herd immunity` terhadap pandemi virus corona (Covid-19). Namun pakar kesehatan internasional mengingatkan bahwa nilai efikasi vaksin Sinovac buatan China telah memicu kekhawatiran efektivitas vaksinasi.

Salah satunya disampaikan pakar sistem kesehatan China, Yanzhong Huang, yang mengatakan bahwa dengan nilai efikasi Sinovac yang lebih rendah dari jenis vaksin lain yang sedang dikembangkan dan diuji-coba saat ini, membuat vaksin tersebut diragukan untuk mencegah virus lebih dalam.

"Karena banyak negara berencana untuk memesan, atau telah memesan vaksin Sinovac, hal itu mungkin melemahkan keinginan orang untuk meminumnya, karena orang mungkin mempertanyakan kegunaan vaksin tersebut," ujar rekan senior untuk kesehatan global yang berbasis di Dewan Hubungan Luar Negeri AS itu, melansir CNN, Senin (18/1).

Indonesia diketahui telah memulai proses vaksinasi pekan lalu, tepatnya pada 13 Januari 2021, dengan Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama penerima vaksin, upaya untuk meyakinkan masyarakat di negara Islam terbesar dunia.

Sementara itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memulainya sehari sesudahnya, Kamis (14/1).

Huang pun memperingatkan bahwa vaksin "Itu bisa menjadi batu sandungan potensial" bagi jalan terakhir negara-negara berkembang untuk memerangi virus dari Negeri Tirai Bambu tersebut.

Huang merujuk pada hasil penelitian beberapa otoritas di negara-negara pemesan vaksin Sinovac.

Dalam uji coba terakhir di Brazil pekan lalu, terungkap vaksin SInovac memiliki tingkat kemanjuran hanya 50,38%.

Nilai tersebut secara signifikan lebih rendah daripada yang ditunjukkan hasil uji coba sebelumnya sebesar 78% terhadap 12.500 sukarelawan.

Perbedaan ini telah menimbulkan kekhawatiran di antara beberapa ilmuwan, dan mengguncang kepercayaan internasional terhadap vaksin Sinovac.

Di Indonesia, pasca kedatangan vaksin Sinovac pada 6 dan 31 Desember sebanyak 3 juta dosis, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) melakukan uji laboratorium dan merilis laporan bahwa vaksin yang siap digunakan itu sebesar 65,3%.

Nilai tersebut berada di atas ambang batas minimum efikasi vaksin yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 50%.

Hasil penelitian di Brasil maupun di Indonesia ini menunjukkan bahwa Sinovac jauh kurang efektif dibandingkan vaksin yang dikembangkan oleh Pfizer-BioNTech dan Moderna, yang memiliki tingkat kemanjuran sekitar 95%.

Demikian pula jenis vaksin lain di Rusia, misalnya, yang mengatakan vaksin Sputnik V memiliki kemanjuran 91%. Di Inggris, vaksin yang dikembangkan oleh Universitas Oxford dan AstraZeneca, memiliki kemanjuran rata-rata 70%.

Di China, Sinovac disebut memiliki tingkat kemanjuran yang lebih rendah daripada vaksin buatan negara, Sinopharm, yang diketahui memiliki tingkat kemanjuran 79,34%.

Sinovac memiliki perjanjian dengan setidaknya enam negara, dengan rencana untuk menyediakan 46 juta dosis vaksin ke Brasil, 50 juta dosis ke Turki dan 7,5 juta dosis ke Hong Kong.

Di Asia Tenggara, vaksin dipesan oleh Thailand sebanyak 2 juta dosis dan mengharapkan untuk menerima 200.000 dosis pertama pada bulan Februari, sementara Filipina telah memesan 25 juta dosis, yang kelompok pertama juga diharapkan tiba bulan depan, menurut Reuters.

Sinovac juga akan memasok 40 juta dosis curah vaksin, konsentrat vaksin sebelum dibagi menjadi botol, ke Indonesia untuk produksi oleh PT Bio Farma. Sebanyak 15 juta bahan baku tersebut telah didatangkan dari China pekan lalu.

Dengan laporan terakhir dari Brazil soal efikasi Sinovac, beberapa negara lain kini sedang memeriksa kembali rencana potensial untuk memesan vaksin.

Otoritas Singapura, misalnya, mengatakan para pejabat akan meninjau vaksin Sinovac sebelum diberikan kepada warganya. Singapura belum menyetujui vaksin tersebut tetapi memiliki perjanjian pembelian dengan perusahaan tersebut.

Menteri Kesehatan Gan Kim Yong mengatakan vaksin harus melalui proses regulasi dan otorisasi oleh Otoritas Ilmu Kesehatan Singapura.

Malaysia juga mengatakan akan mencari lebih banyak data dari Sinovac sebelum menyetujui dan membeli pasokan vaksin dari China.

Hong Kong, yang telah menandatangani kesepakatan dengan Sinovac, disebutkan akan meninjau setiap vaksin berdasarkan uji klinis data.

Sementara Brazil, Turki dan Indonesia telah meluncurkan vaksinasi, pemerintah di Thailand dan Filipina sejauh ini belum mengumumkan rencana peluncuran vaksin di negara masing-masing.

Menanggapi kekhawatiran tersebut, otoritas Thailand telah meminta Sinovac untuk memberikan informasi lebih rinci tentang uji klinis.

Pada hari Rabu, pekan lalu, otoritas Sinovac membela keamanan dan kemanjuran vaksinnya.

"Hasil uji klinis Tahap III ini cukup untuk membuktikan bahwa keamanan dan efektivitas vaksin CoronaVac baik di seluruh dunia," kata ketua perusahaan, Yin Weidong, mengutip Reuters.

Namun di Indonesia, hasil uji coba tahap III yang dilakukan di Bandung, Jawa Barat, Agustus lalu, hingga saat ini belum dirilis Bio Farma dan BPOM.

Hasil uji coba terhadap 1.620 relawan itu diperkirakan akan dirilis pada Maret mendatang, batas maksimum pengujian efektivitas vaksin.

Alhasil, proses vaksinasi yang telah dimulai pekan lalu pun mendapatkan penolakan dari masyarakat, termasuk pejabat di lembaga legislatif.

Ribka Tjiptaning, salah satu legislator dari partai pendukung pemerintahan Jokowi, yang cukup memahami efektivitas vaksin dan bahayanya, mengatakan tidak akan menerima vaksin jika pengujian yang dilakukan Bio Farma belum dirilis.

"Saya tetap tidak mau divaksin. Maupun sampai yang 63 tahun bisa divaksin. Saya udah 63 nih, mau semua usia boleh, tetap, di sana pun hidup di DKI semua anak-cucu saya dapat sanksi Rp5 juta, mending saya bayar. Mau jual mobil, kek," katanya seperti terlihat dari tayangan TV Parlemen, sehari sebelum Presiden Jokowi menerima suntikan vaksin Covid-19 secara live streaming di beranda Istana Negara, Jakarta.

Ribka mengatakan, ada beberapa pengalaman sejarah yang perlu menjadi catatan dan evaluasi pemerintah terkait vaksinasi di Indonesia. Pasalnya, vaksinasi tidak selalu berhasil.

Salah satunya adalah vaksinasi polio dan kaki gajah yang pernah diberikan pemerintah di beberapa wilayah. Di Sukabumi, vaksinasi polio gagal. Begitu pula vaksin kaki gajah di Majalaya, Jawa Barat, yang menewaskan sekitar 12 penduduk.*

Tag:
comments