Indikator Perdagangan: Beranjak Positif
search

Indikator Perdagangan: Beranjak Positif

Zona Barat
Ilustrasi. Foto: Pixabay

Politeia.id -- Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar US$2,62 miliar pada November 2020, berbalik dari defisit US$1,35 miliar pada bulan yang sama tahun 2019.

Ini adalah bulan ketujuh surplus dalam neraca perdagangan tahun lalu, karena ekspor melonjak sementara impor anjlok di tengah pandemi virus corona. Ekspor melonjak 9,54% dibandingkan tahun sebelumnya (y/y) menjadi US$15,28 miliar pada November 2020, sementara impor merosot 17,46% y/y menjadi US$12,66 miliar.

Untuk sebelas bulan pertama tahun 2020, perdagangan mencatat surplus US$19,66 miliar, berbalik dari defisit US$3,51 miliar pada periode yang sama tahun 2019.

Hari ini, data perdagangan untuk Desember 2020 akan diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), yang diperkirakan akan mencatat surplus lebih lanjut karena ekspor terus meningkat sementara impor tetap menurun. Kontraksi impor mengindikasikan lemahnya aktivitas ekonomi domestik, baik konsumsi rumah tangga maupun investasi.

Sementara itu, kenaikan harga komoditas mendorong ekspor dan permintaan dari beberapa negara membaik, termasuk China. Harga batubara naik 14,51% secara bulanan (m/m), dan harga minyak sawit mentah (CPO) naik 8,78% m/m. Surplus perdagangan kemudian akan mendukung mata uang lokal (rupiah).

Namun impor tersebut akan terbantu dengan pulihnya aktivitas manufaktur yang tercermin dari indeks PMI Manufaktur yang lebih tinggi. Mitra dagang Indonesia seperti Jepang, India, dan Zona Euro juga melaporkan pertumbuhan di sektor manufaktur. Namun aktivitas manufaktur China melemah.

Bank Indonesia (BI) memperkirakan aktivitas manufaktur tumbuh pada triwulan I (K1) 2021. Sektor-sektor yang akan memasuki fase ekspansi adalah makanan, minuman, dan tembakau; bahan semen dan non logam, pupuk, kimia, produk karet, kertas, dan produk percetakan.

Pada Desember 2020, PMI manufaktur Indonesia meningkat, tertinggi sejak Februari, seiring dengan meredanya gangguan dari pandemi COVID-19. Pertumbuhan order baru teraselerasi, mengarah ke ekspansi produksi secara solid.

Sementara itu, tingkat pembelian menjadi stabil karena beberapa perusahaan memperluas pembelian sejalan dengan meningkatnya pesanan baru. Namun, pesanan ekspor baru turun tajam di tengah ketidakpastian permintaan global.

Berdasarkan survei tersebut, BI juga menyebutkan beberapa sektor yang memiliki kinerja positif pada K1 tahun ini antara lain sektor keuangan, real estate, perusahaan jasa, pertanian, kehutanan, dan perikanan.

Sebanyak 23% responden memilih berinvestasi pada semester pertama (S1) tahun ini. Namun masalah izin, suku bunga rendah, dan infrastruktur menjadi kendala investasi tahun ini. Realisasi investasi pada K4 tahun 2020, kata BI, menurun dari triwulan sebelumnya, terutama disebabkan oleh investasi di sektor pertambangan dan kegiatan pengeboran.

Untuk meningkatkan ekspor dan mengatasi defisit perdagangan nasional, pemerintah perlu mencari pasar baru, pasar non-tradisional (Tanzania, Kenya, Kazakhstan). Kementerian Perdagangan menargetkan surplus perdagangan tahun ini sebesar US$1 miliar, ekspor barang dan jasa diperkirakan tumbuh 4,2% dan ekspor nonmigas tumbuh 6,3%.

Pemerintah juga didorong untuk mengoptimalkan perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan 162 negara. 

Tag:

comments