Apakah Pola Berpidato Mempengaruhi Perilaku Pemegang Hak Pilih?

By Dioputra Ilham | 07 Mar 2017
Political | 1 Participant(s) | 1 Response(s) | 968 Views

Komunikasi politik tentunya merupakan sebuah elemen penting untuk diperhatikan oleh para pemegang kebijakan publik. Komunikasi politik berfungsi untuk meneruskan pesan-pesan politik dari aktor politik kepada seluruh masyarakat. Komunikasi politik tanpa disadari adalah hal yang ditunggu-tunggu oleh seluruh warga negara, mulai dari warga negara yang menganut budaya politik parokial, kaula hingga partisipan. Hal ini disebabkan oleh hasrat manusia sebagai makhluk sosial untuk cenderung berkomunikasi dan saling mencari peluang lewat bahasa. Sehingga, komunikasi merupakan media yang penting bagi masyarakat untuk saling memahami. Oleh karena besarnya naluri manusia untuk berkomunikasi, komunikasi politik bagi masyarakat-masyarakat yang berbudaya politik parokial sampai partisipan merupakan kriteria yang cukup menarik untuk ditelusuri dalam rangka menentukan calon pemimpinnya.

 

Dalam beberapa bulan terakhir, isu pilkada DKI Jakarta menjadi salah satu isu yang paling diminati oleh masyarakat. Pilkada DKI Jakarta yang berakhir dengan dua putaran semakin menyita perhatian masyarakat, terbukti dengan bermunculannya berbagai headline bertuliskan nama pasangan calon nomor dua dan tiga. Perbandingan di antara kedua paslon dibuat begitu beragam. Salah satu perbandingan yang kerap muncul sekaligus disepelekan adalah perihal komunikasi politik kedua pasangan aktor politik tersebut. Pasangan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi memiliki karakteristik komunikasi politik yang sangat bertolak belakang. Ahli komunikasi, Alo Liliweri, menyatakan bahwa komunikasi memiliki tiga tingkatan sifat dampak. Dampak-dampak tersebut adalah dampak kognitif, afektif dan konitif. Dampak kognitif adalah peran komunikasi dalam  memberikan perubahan pengetahuan atau gagasan pada khalayak. Kemudian, dampak afektif adalah perubahan perasaan yang dialami khalayak setelah berkomunikasi. Selanjutnya tingkatan terakhir dari dampak komunikasi adalah dampak konatif. Dampak konatif adalah dampak komunikasi yang dapat mempengaruhi khalayak untuk menentukan sebuah keputusan, apakah seseorang akan melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Oleh karena itu, dalam isu Pilkada DKI Jakarta, komunikasi seorang aktor politik dapat mempengaruhi perilaku khalayak. Dampak konatif dari komunikasi politik seorang politisi akan mempengaruhi kepercayaan pemilih. Lantas, pola komunikasi politik yang bagaimanakah yang paling memikat hati rakyat?

 

Ahok dikenal sebagai pelayan publik yang kontroversial. Gaya bicaranya yang spontan dan jujur menjadi ciri khas sekaligus malapetaka untuknya. Ahok memanfaatkan pola komunikasi low context yaitu jenis komunikasi yang menggunakan bahasa-bahasa umum dan tidak normatif dalam komunikasi politiknya, dengan seperti ini Ahok mendapatkan kemudahan dalam menyampaikan pemikiran, ide maupun wujud konkret dari program-programnya kepada masyarakat. Pesan yang disampaikan Ahok juga dapat diterima dari berbagai lapisan sosial masyarakat sebab bahasanya tidak terlampau elitis seperti politisi pada umumnya. Ketika berbicara, Ahok juga lebih sering menyisipkan data sebagai bukti yang didapatkannya dari jenjang karirnya sebagai politisi. Hanya saja, sikap Ahok yang terlalu spontan dan ekstrem dalam menanggapi berbagai masalah seringkali berujung menjadi bumerang untuk dirinya. Dalam masa kepemimpinannya, sikap spontannya telah membawanya pada kritik dari berbagai organisasi masyarakat, pengadilan dan bahkan perseteruan antara Pemerintah Provinsi dan DPRD DKI Jakarta.

 

Berbeda dengan Ahok, Anies justru sebaliknya. Anies selama ini kerap disebut-sebut sebagai penenang dan motivator sebab gaya bertutur katanya yang penuh retorika dan sangat normatif. Latar belakangnya yang sempat bergerak dalam dunia pendidikan turut memengaruhi retorikanya yang acapkali berisikan teori. Hampir dalam seluruh kesempatan berpidatonya, Anies menggunakan pola komunikasi high context. Lantas kemudian, tantangan yang datang untuk Anies berupa pertanyaan maupun tuntutan kepada Anies untuk membuktikan kemampuan eksekusinya dapat lebih baik daripada kemampuan berkomunikasinya.

 

Baik Ahok-Djarot maupun Anies-Sandi, keduanya memiliki visi misi yang serupa pada pencegahan penurunan permukaan tanah di Jakarta. Program Ahok-Djarot berupa kegiatan mengendalikan pembangunan di Jakarta Selatan sebagai daerah resapan, kemudian tujuan Anies-Sandi juga untuk membenahi perairan dengan perencanaan daerah penyangga. Walau beberapa tujuan masing-masing paslon serupa, publik memiliki pandangannya sendiri terhadap kedua jabaran program. Penjabaran program dengan pola komunikasi Ahok dan Anies menumbuhkan pemahaman yang berbeda, sebab cara penyampaiannya pun tidak sama jika dilihat melalui substansi atau retorikanya.

 

Kedua calon pemegang kebijakan publik DKI Jakarta memiliki perbedaan yang cukup signifikan dalam memanfaatkan pola komunikasi politik. Perdebatan sengit yang terjadi akhir-akhir ini terdiri dari dua kubu. Kubu pertama berasal dari sebagian warga negara yang lebih memilih maklum atas komunikasi politik yang kurang humanis, asal si aktor politik memiliki kemampuan eksekusi yang baik. Jadi, menurut kubu pertama komunikasi politik tidak begitu berpengaruh terhadap elektabilitas calon pemimpin. Kemudian kubu kedua adalah sebagian masyarakat yang menganggap sikap humanis sebagai “rangkulan motivasi” untuk rakyat merupakan persoalan yang amat penting. Lalu menurut Anda pribadi, seberapa signifikankah pengaruh komunikasi politik seorang aktor politik terhadap elektabilitasnya dalam pilkada?