Pertumbuhan Hotel di Yogyakarta: Bermanfaat atau Merugikan Sektor Pariwisata‎?

By Debating Guru | 13 Apr 2015
Economy | 13 Participant(s) | 31 Response(s) | 12298 Views

Yogyakarta atau biasa disebut dengan Jogja adalah kota pariwisata. Khasanah budaya nusantara merupakan andalan kota ini. Wisatawan asing maupun domestik umumnya menempatkan Jogja sebagai destinasi wisata utama mereka.

Wajar apabila daya tarik ini memotivasi pelaku usaha untuk mengembangkan bisnis hotel dan penginapan.‎ Ber‎dasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Daerah Istimewa Yogyakarta, jumlah hotel khusus di Yogyakarta hingga awal 2014 tercatat 339 hotel, terdiri atas 43 hotel berbintang dan 356 hotel nonbintang.

Sektor ini pun berkontribusi sangat signifikan, hingga mencapai‎ rata-rata 21 persen dari Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.Di satu sisi, maraknya perkembangan hotel di Yogyakarta sejalan dengan fokus kebijakan daerah pada pengembangan sektor wisata. Di sisi lain, pengembangan hotel yang tidak terkendali justru dapat merusak karakteristik budaya dan tidak membuat kota Yogyakarta semakin tidak nyaman.

Secara estetika, banyak desain hotel yang tidak sesuai dengan desain tradisional yang menjadi ciri khas kota Jogja. Selain itu secara tata kota, belum ada daya dukung jalan, transportasi, maupun drainase yang memadai. Akibatnya Jogja semakin macet, padat, dan dapat mengalami kekurangan sistem sanitasi.

Bagaimana pendapat kamu soal ini? Hasil diskusi ini akan diserahkan langsung kepada Walikota Yogyakarta serta jajaran instansi pemerintah yang terkait di pusat dan daerah.

 




What the Leaders Say

  • John Widiantoro - Ketua Lembaga Konsumen Yogyakarta

    Ketua Lembaga Konsumen Yogyakarta (LKY) John Widijantoro mengatakan bahwa pembangunan hotel jangan sampai merusak karakter asli kota wisata tersebut sehingga merugikan kepentingan wisatawan. "Zona inti wisata akan makin semrawut ketika jumlah hotel bertumpuk di wilayah tersebut (Kota Yogyakarta)," kata Widijantoro. Selain merusak citra kota sebagai tujuan wisata, menurut Widijantoro, pemberian izin pembangunan hotel berlebihan juga secara langsung menambah beban jalan, drainase, serta sumber air yang terbatas. "Sebenarnya, kota ini sudah tidak butuh pembangunan hotel," kata dia. Bisnis wisata maupun wisatawannya, kata dia, akan dirugikan ketika kekhasan Yogyakarta sebagai kota wisata dan budaya rusak.

    Sumber
  • Sudaryono Sastrosasmito

    Perlu Zonasi Pakar tata kota dan tata ruang UGM Sudaryono Sastrosasmito memandang perlu ditentukan zonasi atau pembagian wilayah dalam mekanisme pembangunan hotel di Yogyakarta, terdiri atas zona inti dan zona penyangga. "Perlu ada pembagian wilayah atau zonasi dalam persebaran pembangunan hotel di Yogyakarta, yaitu zona inti dan zona penyangga," katanya. Di dalam zona inti yang merupakan wilayah vital Yogyakarta yang dibatasi Sungai Code di sebelah Timur dan Sungai Winongo di sebelah barat, menurut dia, perlu ada pembatasan, baik dari sisi jumlah bangunan maupun jumlah lantai hotel. "Zona inti yang merupakan wilayah vital Daerah Istimewa Yogyakarta akan semakin semrawut ketika jumlah hotel bertumpuk di daerah tersebut," katanya. Pada dasarnya, kata dia, kapasitas jalan-jalan yang ada di Kota Yogyakarta sebetulnya secara langsung telah memberikan pembatasan kewajaran bangunan. Bahkan, lanjut dia, hampir secara keseluruhan jalan, khususnya di Yogyakarta didesain untuk bangunan-bangunan horizontal. "Kapasitas jalan yang ada di Yogyakarta yang rata-rata memiliki lebar 6--8 meter sebetulnya hanya mampu menampung beban dari bangunan-bangunan horizontal,"kata Sudaryono.

    Sumber